Tradisi Ngelawang Desa Wisata Penglipuran sambut liburan akhir tahun 

Menjelang perayaan Tahun Baru 2025, Desa Wisata Penglipuran yang berada di Kabupaten Bangli, Bali, siap menghadirkan pengalaman unik bagi wisatawan dengan mementaskan tradisi Ngelawang di area hutan bambu yang asri.

Update: 2024-12-30 14:38 GMT
Sumber foto: Eko Sulestyono/elshinta.com.

Elshinta.com - Menjelang perayaan Tahun Baru 2025, Desa Wisata Penglipuran yang berada di Kabupaten Bangli, Bali, siap menghadirkan pengalaman unik bagi wisatawan dengan mementaskan tradisi Ngelawang di area hutan bambu yang asri.

Pertunjukan ini dibawakan oleh anak-anak desa setempat, yang dengan semangat menampilkan kesenian tradisional khas Bali.

Ngelawang adalah ritual tolak bala yang dilakukan dengan mengarak Barong Macan keliling desa, diiringi alunan gamelan.

Tradisi ini biasanya digelar saat Hari Raya Galungan dan Kuningan sebagai upaya mengusir roh jahat dan melindungi masyarakat dari wabah penyakit.

Kali ini, Ngelawang dipentaskan dalam suasana hutan bambu Penglipuran, memberikan nuansa magis dan autentik bagi para pengunjung.

I Wayan Sumiarsa, Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran mengatakan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk menghibur wisatawan.

Selain itu juga sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda menyalurkan kreativitas mereka ke arah positif.

“Kami berharap melalui pementasan Ngelawang ini, anak-anak muda dapat lebih mencintai dan melestarikan budaya leluhur, serta wisatawan mendapatkan pengalaman yang berbeda selama liburan akhir tahun," kata I Wayan Sumiarsa, Senin (30/12).

Selain menikmati pertunjukan, wisatawan juga diajak berpartisipasi dalam berbagai aktivitas budaya, seperti belajar menari dan memainkan alat musik tradisional.

Hal ini sejalan dengan upaya Desa Penglipuran untuk terus berinovasi dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, yang diharapkan berdampak positif pada pendapatan desa. 

Dengan adanya pementasan Ngelawang di hutan bambu, Desa Wisata Penglipuran tidak hanya menawarkan keindahan alam dan arsitektur tradisional, tetapi juga kekayaan budaya yang hidup dan dapat dinikmati oleh semua kalangan.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi daya tarik tambahan yang memperkaya pengalaman wisatawan selama berada di Bali,” pungkas I Wayan Sumiarsa seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, Senin (30/12). 

Tags:    

Similar News