Lestarikan budaya, ratusan warga Boyolali gelar Grebek Sadranan
Warga dari 15 desa di lereng Gunung Merbabu dan Merapi Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menggelar tradisi ritual Grebek Sadranan, Minggu (9/2).
Elshinta.com - Warga dari 15 desa di lereng Gunung Merbabu dan Merapi Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menggelar tradisi ritual Grebek Sadranan, Minggu (9/2). Tradisi ini dilakukan untuk mengawali pembukaan tradisi Sadranan yang dilaksanakan turun temurun dan dilaksanakan setiap jelang bulan Ramadan atau bulan penanggalan Jawa adalah Ruwah.
Prosesi Grebek Sadranan dilakukan dengan berjalan kaki, arak-arakan oleh warga dengan membawa Tenong berisi berbagai makanan lengkap dengan lauk pauk, sambil mengirapkan sejumlah tumpeng raksasa yang terbuat dari bermacam-macam hasil bumi dan sayur mayur. Arak-arakan diawali dari jalan desa menuju Alun-alun Pancasila Cepogo.
Dwi Adi Agung Nugroho, selaku anggota DPR Provinsi Jawa Tengah yang hadir dalam acara itu mengatakan, Sadranan adalah salah satu tradisi turun temurun di Boyolali yang perlu dilestarikan. Selain itu dapat menjadi destinasi wisata dari sisi religi dan budaya.
"Ini untuk mengajarkan kepada generasi selanjutnya agar tak lupa budaya leluhur kita." kata Dwi Adi Agung Nugroho seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sarwoto, Minggu (9/2).
Sementara itu Camat Cepogo, Dwi Sundarto mengatakan, tradisi Sadranan di Kecamatan Cepogo berlangsung empat kali dalam setahun, yakni bulan penanggalan Jawa adalah Sapar, Mulud, Rojab dan bulan Ruwah. Dan Sadranan terbesar di bulan Ruwah.
"Untuk itu wujud lestarikan budaya Jawa, diadakan Grebek Sadranan. Setelah dilakukan Grebek Sadranan dilanjutkan Sadranan di masing-masing desa dengan waktu yang berbeda," kata Dwi Sundarto.
Dilihat dari tahun sebelumnya, saat tradisi Sadranan berlangsung di wilayah Cepogo, dipastikan terjadi kemacetan arus lalulintas dikarenakan banyak warga dari berbagai tempat yang datang.
"Ini luar biasa, antusiasme warga masyarakat luar biasa. Kami atas nama Pemerintah Kecamatan Cepogo bangga dan mengapresiasi atas terselenggaranya tradisi budaya ini. Dan acara ini dikemas menjadi agenda wisata dengan harapan bisa meningkatkan kunjungan wisata di Cepogo," kata Dwi.
Sementara itu Sekretaris Daerah Boyolali, Wiwis Trisiwi Handayani mengatakan, Grebek Sadranan adalah tradisi budaya lokal di lereng Merapi Boyolali.
"Kegiatan ini murni partisipasi gotong royong masyarakat dari 15 desa di Cepogo. Tak ada satu rupiah pun dari pemerintah kabupaten. Pemerintah kabupaten menyambut baik atas kegiatan ini. Animo masyarakat luar biasa. Kami ucapkan terimakasih dan apresiasi kepada masyarakat Cepogo," ujar Wiwis Trisiwi Handayani.
Diharapkan nantinya Grebek Sadranan bisa menjadi destinasi budaya. Sehingga memiliki multi efect player terhadap perekonomian masyarakat.