Tradisi Sadranan, warga lereng Merbabu gelar kenduri dan doa di makam puncak bukit 

Bertempat di pemakaman umum puncak bukit lereng Gunung Merbabu, warga masyarakat Dukuh, Gunung Wijil, Desa Gubuk, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali,  Jawa Tengah melaksanakan tradisi Sadranan.

Update: 2025-02-21 20:46 GMT
Sumber foto: Sarwoto/elshinta.com.

Elshinta.com - Bertempat di pemakaman umum puncak bukit lereng Gunung Merbabu, warga masyarakat Dukuh, Gunung Wijil, Desa Gubuk, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali,  Jawa Tengah melaksanakan tradisi Sadranan.Tradisi tahunan ini, dilaksanakan secara turun temurun, setiap menjelang bulan suci Ramadan atau bulan Jawa, Ruwah.

Dengan membawa Tenong berisi nasi dan lauk pauk, kue serta buah buahan, warga berkumpul di area makam, untuk kenduri dan doa bersama. Warga mendoakan arwah para leluhurnya. Selain itu tradisi tersebut dilakukan, sebagai wujud syukur atas rejeki yang diberikan dari Tuhan YME.  

Doa dipimpin langsung oleh sesepuh warga atau orang yang dituakan. Warga secara bersama-sama melakukan zikir dan tahlil.

Kepala Rukun Warga (RW) Dukuh, Gunung Wijil, Sriyono mengatakan, tradisi Sadranan adalah warisan dari nenek moyang yang harus dilaksanakan.Tenongan atau membawa makanan, adalah merupakan wujud sedekah makanan kepada sesama atau makan bersama usai menggelar doa," kata Sriyono seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sarwoto, Jumat (21/2). 

Menurut Sriyono, tradisi Sadranan diharapkan agar warga masyarakat selalu diberikan ketentraman, kedamaian dan kerukunan. "Dengan kegiatan tahunan ini  dapat mempererat tali silaturahmi di antara warga.dan saling bergotong royong," ucap Sriyono.

Sementara itu salah satu warga setempat, Cipto Suwarno mengatakan, tradisi Sadranan dilakukan untuk melanjutkan warisan dari nenek moyang. Makan dan sedekahan di makam puncak Gunung Wijil untuk memulyakan para arwah leluhur.

Sementara itu Putut Tetuko, yang juga merupakan salah satu tokoh warga mengatakan, sangat mendukung kegiatan tradisi Sadranan oleh warga. Selain wujud syukur, tradisi tersebut untuk melestarikan budaya Jawa dan tetap menjaga kerukunan dan persatuan warga. 

Usai melaksanakan doa bersama, warga makan bersama di dalam area makam. Setelahnya, warga kembali ke rumah masing-masing untuk menerima tamu yang mengunjunginya. Selain itu warga juga saling berkunjung ke tetangga, sanak saudara maupun kerabat.

Dengan adanya tradisi Sadranan tersebut, sejumlah jalan menuju wilayah Gunung Wijil dipadati warga yang saling berkunjung, baik pejalan kaki maupun pengendara roda dua dan empat. 

Tags:    

Similar News