Pemkot Yogyakarta luncurkan gerakan sekolah bersih untuk kurangi sampah
Sampah sampai saat ini masih menjadi persoalan yang serius di kota Yogyakarta. Untuk mengurangi sampah tersebut, Pemerintah Kota meluncurkan gerakan sekolah bersih dengan kegiatan kerja bakti massal seluruh warga sekolah.
Elshinta.com - Sampah sampai saat ini masih menjadi persoalan yang serius di kota Yogyakarta. Untuk mengurangi sampah tersebut, Pemerintah Kota meluncurkan gerakan sekolah bersih dengan kegiatan kerja bakti massal seluruh warga sekolah.
Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menjelaskan bahwa gerakan sekolah bersih ini melibatkan para pelajar yang diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam menggerakkan masyarakat mengelola sampah secara mandiri.
Menurutnya, gerakan bersih sekolah itu adalah upaya menggugah kesadaran masyarakat bersama Pemkot Yogyakarta dan pemangku kepentingan untuk mengelola sampah, memilah dan mengurangi sampah. Gerakan Sekolah bersih itu dilaksanakan di sekolah sampai di lingkungan 200 meter di sekitar sekolah.
"Kami mendorong semua sekolah di Kota Yogyakarta untuk menumbuhkan peduli lingkungan terhadap pengelolaan sampah. Ini langkah konkret Pemerintah Kota Yogyakarta bahwa kita serius menangani sampah," ujar Wawan Harmawan saat peluncuran Gerakan Sekolah Bersih di SMPN 5 Yogyakarta, Rabu (26/02), seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo.
Selain menggerakkan sekolah-sekolah SMP, Pemkot Yogyakarta juga bekerja sama dengan Pemda (DIY) SMA/SMK ikut dalam gerakan sekolah bersih tersebut. Pemilihan SMP N 5 Yogyakarta sebagai lokasi peluncuran Gerakan Sekolah bersih karena menjadi percontohan pengelolaan sampah secara mandiri menggunakan mesin incinerator.
"Anak-anak muda di sini adalah agen perubahan untuk mengajak pengurangan dan pengelolaan sampah,"imbuhnya
Wakil Walikota Yogyakarta juga mengapresiasi adanya kegiatan Zero Trash Community (Zetra) Pawitikra di SMPN 5 Yogyakarta yang melakukan pengelolaan sampah.
Sementara itu, Kepala SMPN 5 Yogyakarta Siti Arina Budiastuti mengungkapkan bahwa selama ini di SMPN 5 Yogyakarta sudah mengelola sampah secara mandiri berupa pemilahan sampah dan penggunaan mesin incinerator dengan teknologi carbonizer yang tidak menimbulkan emisi seperti dioxin, furan maupun sulfur dioksida ke lingkungan.
Pengelolaan sampah di SMPN 5 Yogyakarta dipilah dengan rincian sampah organik dikelola sekolah, sampah anorganik disetor ke bank sampah.
Sedangkan sampah residu diolah menggunakan mesin incinerator dengan kapasitas sekitar 70 kg dan hasilnya menyusut menjadi sekitar 10 persen berupa briket arang untuk bahan bakar. Hasil briket arang tersebut juga sudah ada pihak yang memanfaatkan.
"Kami sudah masuk tahun kedua untuk pengelolaan sampah. Kami memiliki garda Zetra Pawitikra. Seluruh siswa di sini setiap hari sudah memilah sampah dan setor sampah tiap hari Jumat oleh tim sekolah ada guru, karyawan termasuk kepala sekolah,” jelasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori menegaskan gerakan sekolah bersih berdasarkan arahan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.
Kegiatan sekolah bersih diikuti seluruh sekolah di Kota Yogyakarta jenjang 230 TK, 165 SD, 66 SMP/MTS dan sekitar 70 SMA/SMK/MA.
“Kegiatan bersih sekolah ini serentak seluruh sekolah. Gerakan kebersihan ini bagaimana sekolah bisa mengelola sampah dengan baik dan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat sekitar. Kerja bakti rutin rencananya dua minggu sekolah. Gerakan ini (wujud) bahwa sektor pendidikan peduli terhadap pengelolaan sampah dan perilaku hidup sehat dan bersih,” pungkasnya.