Menjaga adat budaya Jawa yang hampir punah, warga Kudus gelar tradisi mitoni 7 bulanan

Acara selamatan 7 bulanan (Mitoni) digelar oleh warga Kudus bernama Kamal Mustofa, warga Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah untuk menyambut kehadiran cucu pertama di keluarga tersebut.

Update: 2025-02-28 16:07 GMT
Sumber foto: Sutini/elshinta.com.

Elshinta.com - Acara selamatan 7 bulanan (Mitoni) digelar oleh warga Kudus bernama Kamal Mustofa, warga Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah untuk menyambut kehadiran cucu pertama di keluarga tersebut. Acara yang sarat dengan nilai budaya ini berlangsung meriah dan khidmat, dihadiri oleh keluarga besar serta tamu undangan yang turut menyaksikan prosesi adat Jawa yang penuh makna. 

Sebagai bagian dari tradisi tujuh bulanan kehamilan, Wilujengan Mitoni diisi dengan berbagai ritual siraman, sungkeman, dan pagelaran wayang kulit. Salah satu sorotan utama dalam acara ini adalah pagelaran wayang kulit oleh Ki Purbo Asmoro yang membawakan lakon "Tumuruning Wahyu Wiji Sejati" dalam format pakeliran padat, memberikan hiburan sekaligus pesan moral bagi para hadirin.

Menurut Kamal Mustofa, momen ini tidak hanya bentuk pelestarian budaya, akan tetapi mengembalikan lagi tatanan leluhur . "Acara ini penuh makna yang mendalam makanya kami Gelar sebagaimana mestinya", katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Jumat (28/2). 

Sementara itu Retno Aisah Maharani salah seorang warga Gebog Kudus yang hadir mengapresiasi dan takjub dengan tradisi prosesi mitoni yang digelar keluarga Kamal. Sebagai generasi muda, ia mengaku baru tahu ada tradisi sakral pada saat mitoni.

"Wah keren acaranya penuh kesakraklan dan kearifan lokal serta menjunjung nilai nilai luhur budaya Jawa sangat kental sekali" tutur salah satu mahasiswi ini.

Tradisi mitoni yang dipandu salah satu penata pengantin asal Yogyakarta ini memang mampu menyihir tamu yang hadir. Mereka seakan terbawa dengan kearifan lokal di setiap prosesi.seperti saat sungkeman dimana seorang anak memohon doa restu kepada orang tuanya saat menjelang proses persalinan. dimana, tradisi tersebut kini semakin digerus jaman dan ditinggalkan .

“Kami merasa sangat terhormat bisa menjalankan tradisi ini dengan penuh khidmat. Ini bukan hanya tentang merayakan kehamilan, tetapi juga menyambung doa dan harapan untuk calon anak yang akan lahir. Semoga tradisi ini terus dijaga oleh generasi mendatang.” ujarnya.

Dengan tradisi ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya menjaga kearifan lokal dan merayakan momen penting dalam kehidupan dengan nilai-nilai budaya yang hampir punah.

"Kami gelar acara ini salah satunya juga menjaga dan melestarikan budaya lokal agar tidak punah karena prihatin jika sampai anak cucu kita tidak mengenal budaya nya sendiri," imbuh Kamal. 

Tags:    

Similar News