Interaksi Dubes RI: Hubungan Indonesia-Australia dalam pendidikan, ekonomi, dan diaspora bersama
Hubungan Indonesia-Australia semakin erat dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial. Simak peran mahasiswa, diaspora, dan bisnis WNI di Australia serta kerja sama bilateral antara kedua negara.
Elshinta.com Dalam program spesial "Interaksi Duta Besar" yang digelar selama bulan Ramadan, masyarakat Indonesia berkesempatan untuk berbincang langsung dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia merangkap Republik Vanuatu, Dr. Siswo Pramono. Dalam sesi ini, berbagai aspek hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia dibahas, termasuk pendidikan, ekonomi, serta keberadaan diaspora Indonesia di Negeri Kanguru.
Australia: Negara dengan Ekonomi Kuat dan Multikultural
Australia dikenal sebagai negara yang stabil secara ekonomi, memiliki masyarakat yang beragam, serta tenaga kerja yang terampil dan kompetitif. Tak heran, Australia menjadi salah satu destinasi favorit bagi masyarakat dunia, termasuk dari Indonesia. Salah satu daya tarik utama adalah sektor pendidikan yang berkualitas serta peluang bisnis yang menjanjikan bagi diaspora Indonesia.
Peran Mahasiswa dan Diaspora Indonesia di Australia
Salah satu aspek penting dalam hubungan Indonesia dan Australia adalah kehadiran mahasiswa Indonesia. Saat ini, jumlah mahasiswa Indonesia di Australia mencapai sekitar 23.000 orang, meningkat signifikan dari angka sebelum pandemi yang berada di sekitar 19.000 orang. Mahasiswa ini tersebar di berbagai jenjang pendidikan mulai dari S1 hingga S3.
Selain mahasiswa, diaspora Indonesia di Australia juga terus berkembang. Saat ini terdapat sekitar 92.000 warga negara Indonesia (WNI) di Australia, baik yang masih berstatus mahasiswa, pekerja, maupun pemilik usaha. Konsentrasi terbesar diaspora Indonesia berada di Sydney, diikuti oleh Melbourne, Perth, dan Darwin.
Kegiatan Ramadan dan Kehidupan Muslim di Australia
Selama bulan Ramadan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Canberra mengadakan berbagai kegiatan untuk mempererat hubungan antar WNI. Beberapa di antaranya adalah pengajian tarhib Ramadan, buka puasa bersama, tarawih berjamaah, serta pembagian takjil ke asrama mahasiswa dan keluarga Indonesia. Selain itu, menjelang Idul Fitri, KBRI juga mengadakan pengumpulan zakat fitrah, malam takbiran, serta salat Idul Fitri bersama.
Di Australia sendiri, komunitas Muslim cukup berkembang, terutama di Sydney dan Melbourne. Di berbagai kota, terdapat pusat kebudayaan Muslim yang aktif mengadakan kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat Muslim dari berbagai latar belakang.
Peluang Bisnis dan Keberhasilan Diaspora Indonesia
Selain dunia akademik, diaspora Indonesia di Australia juga aktif di dunia bisnis. Banyak WNI yang menjalankan usaha di berbagai sektor, mulai dari perdagangan hingga kuliner. Terdapat lebih dari 150 restoran Indonesia yang tersebar di Australia, menjadi sarana penting dalam memperkenalkan budaya kuliner Indonesia ke masyarakat internasional.
Selain itu, ada juga perusahaan besar yang dimiliki oleh diaspora Indonesia, seperti Sony Trading yang bergerak di bidang ekspor-impor dan memiliki lebih dari 10 gudang besar di Australia. Bisnis ekspor-impor ini berperan penting dalam membawa produk Indonesia ke pasar Australia.
Fenomena "Kabur Aja Dulu" dan Himbauan KBRI
Belakangan ini, muncul fenomena di media sosial dengan slogan "Kabur Aja Dulu", yang mengisyaratkan keinginan generasi muda Indonesia untuk mencari peluang di luar negeri, termasuk ke Australia. Dubes Siswo Pramono mengingatkan bahwa migrasi ke luar negeri harus dilakukan dengan cara yang legal dan terencana. WNI yang ingin bekerja atau belajar di Australia harus memastikan memiliki visa yang sesuai, serta melakukan lapor diri ke KBRI atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).
Perjalanan ke luar negeri dapat menjadi kesempatan besar untuk menimba ilmu dan mencari peluang ekonomi. Bahkan, pekerja migran Indonesia yang berada di luar negeri memberikan kontribusi besar terhadap devisa negara, dengan nilai remitansi mencapai 231 triliun rupiah pada tahun lalu*, menurut data World Bank dan Bank Indonesia.
Hubungan Bilateral Indonesia-Australia: Sejarah dan Kerja Sama Masa Kini
Hubungan diplomatik Indonesia dan Australia telah berlangsung selama 75 tahun, dengan lebih dari 260 perjanjian bilateral yang mencakup berbagai sektor, seperti ekonomi, pendidikan, budaya, dan teknologi. Salah satu perjanjian terpenting adalah Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang memperkuat hubungan perdagangan dan investasi antara kedua negara.
Secara historis, Australia juga memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1940-an, buruh pelabuhan Australia pernah melakukan boikot terhadap kapal Belanda yang membawa senjata untuk menekan perlawanan Indonesia. Gerakan ini dikenal sebagai Black Armada, yang menjadi simbol dukungan Australia terhadap kemerdekaan Indonesia.
Hubungan Indonesia dan Australia terus berkembang di berbagai bidang. Kehadiran mahasiswa dan diaspora Indonesia di Australia menjadi bukti eratnya interaksi antara kedua negara. Selain itu, kerja sama ekonomi, pendidikan, dan budaya terus diperkuat melalui berbagai perjanjian bilateral. Dengan pendekatan yang tepat dan persiapan yang matang, masyarakat Indonesia memiliki peluang besar untuk sukses di Australia, baik di bidang akademik, bisnis, maupun profesional.