BBWS CimanCis luncurkan dua inovasi IPA untuk pertanian hemat air

Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan pertanian, Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWS CimanCis) memperkenalkan dua metode baru untuk mempercepat penerapan Instalasi Pengolahan Air (IPA) dalam sektor pertanian.

Update: 2025-03-20 20:47 GMT
Sumber foto: Yohanes Charles/elshinta.com.

Elshinta.com - Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan pertanian, Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWS CimanCis) memperkenalkan dua metode baru untuk mempercepat penerapan Instalasi Pengolahan Air (IPA) dalam sektor pertanian. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, terutama saat musim kemarau.

Kepala BBWS CimanCis, Dwi Agus Kuncoro, menekankan pentingnya penyesuaian pola tanam dengan ketersediaan air yang ada. Ia mengingatkan bahwa padi bukan tanaman akuatik, sehingga penggunaannya yang berlebihan justru kurang efisien.

"Kami mengembangkan metode IPA untuk membantu petani memanfaatkan air secara lebih hemat dan optimal," ujar Dwi Agus kepada Kontributor Radio Elshinta, Y Charles, Rabu (19/3/25).

Ia menjelaskan bahwa terdapat dua metode utama yang bisa mempercepat penerapan IPA dalam pertanian:

1. Modifikasi Alat yang Sudah Ada
Pemerintah telah menyalurkan berbagai alat pertanian kepada petani. BBWS CimanCis melihat peluang untuk memodifikasi alat-alat tersebut agar lebih efisien dengan biaya yang relatif murah, yakni sekitar Rp5 juta per unit.

2. Pembuatan Alat Baru
Selain modifikasi, BBWS CimanCis juga mengembangkan alat khusus yang dirancang sesuai dengan metode IPA. Alat ini menggunakan tenaga listrik dengan aki dan charger, sehingga lebih hemat energi. Biaya pembuatannya diperkirakan mencapai Rp10 juta per unit.

Dwi Agus menambahkan bahwa inovasi ini bertujuan untuk mendukung petani pemilik lahan maupun petani penggarap agar lebih produktif. Dengan adanya dukungan dari pemerintah, alat ini berpotensi dikembangkan secara luas untuk kelompok tani.

Salah satu keunggulan utama dari metode IPA ini adalah penghematan biaya produksi hingga 40 persen. Dengan teknologi yang lebih efisien, petani bisa meningkatkan hasil panen tanpa perlu menguras sumber daya air dan energi.

“Kami berharap inovasi ini menjadi solusi nyata bagi para petani di tengah perubahan iklim dan semakin terbatasnya pasokan air,” tutup Dwi Agus seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Yohanes Charles, Kamis (20/3). 

Tags:    

Similar News