Pertama kali di Borobudur, ritual Krodikali Feast Offering digelar
Untuk pertama kalinya, ritual Krodikali Feast Offering digelar dalam rangkaian Waisak 2569 BE/2025 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Ritual ini untuk mendatangkan semua mahluk baik yang kasat mata ataupun tidak.
Elshinta.com - Untuk pertama kalinya, ritual Krodikali Feast Offering digelar dalam rangkaian Waisak 2569 BE/2025 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Ritual ini untuk mendatangkan semua mahluk baik yang kasat mata ataupun tidak.
Ritual ini digelar di Taman Aksobya dan diikuti ratusan umat Buddha dari berbagai negara pada Sabtu (10/5).
Ketua panitia, Lama Rama Santoso Liem mengatakan acara tersebut merupakan ajaran aliran Tantrayana Vajrayana dari Tibet Buddhis yang meliputi empat aliran, yakni nyingma (merah), kagyu (putih), sakya (bunga) dan gelug (kuning).
Menurut dia, Krodikali sudah banyak dilakukan di Singapura, Malaysia, Taiwan juga Hong Kong. "Tapi ini baru pertama kali kita gelar di Indonesia tepatnya di Borobudur," katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Kurniawati, Selasa (13/5).
Berbeda dengan ritual yang lain, Krodikal Feast Offering menggunaan instrumen musik, seperti damaru dan vajra bell. Damaru merupakan alat musik berupa drum berkepala dua. Alat ini biasa digunakan untuk tradisi Hindu dan Budha Tibet, dan melambangkan dewa Siwa.
Sedangkan Vajra terdiri dari logam yang menyerupai petir dengan dua kepala bundar bergaris. Hanya selalu didampungkan dengan bell (lonceng).
Instrumen musik itu bertujuan untuk mengundang roh-roh untuk hadir dalam upacara pepujaan.
Lama Rama mengatakan, semua mahluk diundang untuk ikut mendoakan perdamaian dunia.