AHY sebut krisis iklim jadi ancaman serius

Pemanasan global yang melanda dunia perlu dihadapi secara bersama-sama. Tidak ada negara sebesar apapun yang bisa menghadapinya sendiri tanpa melakukan kerjasama.

Update: 2025-05-13 17:22 GMT
Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.

Elshinta.com - Pemanasan global yang melanda dunia perlu dihadapi secara bersama-sama. Tidak ada negara sebesar apapun yang bisa menghadapinya sendiri tanpa melakukan kerjasama.

"Kita benar-benar berhadapan dengan ancaman serius terkait krisis iklim pemanasan global. Ini bisa dikatakan ancaman yang benar-benar harus kita waspadai harus diantisipasi secara serius," ujar Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada forum The Yudhoyono Institute Lecture yang berlangsung di Hotel Marriott, Yogyakarta, Senin (12/5/2025).

AHY yang juga Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Daerah Kabinet Merah Putih mengatakan bahwa untuk mengantisipasi dampak dari krisis iklim tersebut perlu membangun kerjasama strategis agar menelorkan terobosan-terobosan baik dari teknologi atau dukungan lain termasuk dalam bentuk kapital. Pembangunan harus dilakukan untuk mensejahterakan masyarakat termasuk masyakarat Indonesia agar semakin sejahtera namun tidak mengorbankan kelestarian lingkungan apalagi memperburuk pemanasan global. 

"Ancamannya sangat serius bisa mengakibatkan berbagai bencana alam skala besar yang bisa menimbulkan korban jiwa, ekonomi maupun material," imbuhnya.

Sementara dalam pidatonya yang membahas tema "Pertumbuhan Hijau: Pertumbuhan Berkelanjutan dengan Keadilan," AHY mengatakan bahwa Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, sedang mendorong kemajuan di berbagai bidang, dari ketahanan pangan dan air bersih hingga transisi energi dan inovasi industri.

Sebagai Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Daerah, AHY mengawasi upaya di berbagai kementerian dan lembaga dalam bidang perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan; pembangunan infrastruktur; transportasi darat, udara, dan laut; perumahan yang terjangkau; serta pembangunan daerah dan transmigrasi di seluruh negeri.

"Sustainabilitas bukan hanya tentang lingkungan, tapi juga tentang martabat manusia, pengurangan kemiskinan, dan keamanan jangka panjang untuk generasi masa depan," katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Selasa (13/5).

Di Indonesia, solusi yang terintegrasi sudah ada yang apat menciptakan perubahan nyata. Dari irigasi yang lebih baik yang meningkatkan panen dan melindungi dari kekeringan, hingga kepemimpinan kami dalam rantai pasokan EV dan baterai, jalur pembangunan kami semakin dipandu oleh prinsip-prinsip ketahanan, inovasi, dan keadilan sosial.

Tantangan yang dihadapi saat ini adalah perubahan iklim, ketidakamanan pangan dan energi, ketidaksetaraan digital; adalah global, terhubung, dan mendesak.

AHY menyebut ada tiga isu fundamental yang perlu direnungkan yaitu; 

1. Bagaimana kita dapat mendefinisikan ulang pertumbuhan dengan cara yang menghargai integritas lingkungan dan kesejahteraan manusia.
2. Bagaimana kita dapat meningkatkan terobosan teknologi sehingga mereka mengangkat bukan hanya beberapa orang, tapi banyak orang.
3. Bagaimana kita dapat memastikan tata kelola dan kolaborasi menjembatani wawasan global dengan aksi lokal.

AHY menyebut bahwa  Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono saat menjabat sebagai Presiden telah membantu membentuk agenda iklim global. Yaitu menjadi tuan rumah Konferensi Iklim Bali 2007 (COP 13) yang menghasilkan Peta Jalan Bali dan membuka jalan bagi Perjanjian Paris. Kemudian memberlakukan moratorium pembukaan hutan primer dan bermitra dengan Norwegia untuk melindungi hutan. SBY juga mendirikan Inisiatif Segitiga Terumbu Karang dan memperjuangkan energi terbarukan di dalam negeri. Secara global, SBY menjadi salah satu ketua Panel Tingkat Tinggi PBB yang membentuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. 

"Bahkan setelah masa jabatannya sebagai presiden, ia terus memimpin, menjabat sebagai Presiden Majelis dan Ketua Dewan Global Green Growth Institute (GGGI) pada tahun 2014-2016. Warisannya tetap menjadi cahaya penuntun bagi kerja bersama kita," jelasnya.

Dalam pidatonya, AHY mengucapkan selamat datang kepada semua peserta di Seri Kuliah Institut Yudhoyono 2025, yaitu sebuah forum untuk dialog strategis tentang tantangan yang menentukan masa depan. Kami tidak hanya berbagi ide, tapi juga memajukan tujuan bersama.

Institut Yudhoyono, yang didirikan pada tahun 2017 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berlandaskan pada kebebasan, kemakmuran, dan keamanan; nilai-nilai yang sangat penting dalam dunia yang berubah cepat dan terhubung. Tahun ini, Kuliah Institut Yudhoyono membahas tema "Pertumbuhan Hijau: Pertumbuhan Berkelanjutan dengan Keadilan".

Tags:    

Similar News