Wamensos: Pendidikan alat pembebasan masyarakat miskin

Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menekankan pentingnya peran kampus dalam upaya penghapusan kemiskinan ekstrem dan penurunan angka kemiskinan nasional. Hal ini disampaikannya saat menghadiri Dialog Pengentasan Kemiskinan melalui Pendidikan di Universitas Boyolali, Senin (26/5/2025).

Update: 2025-05-27 15:45 GMT
Wamensos Agus Jabo Priyono di Universitas Boyolali, Jawa Tengah, Senin (26/5/2025). Foto: Kemensos

Elshinta.com - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menekankan pentingnya peran kampus dalam upaya penghapusan kemiskinan ekstrem dan penurunan angka kemiskinan nasional. Hal ini disampaikannya saat menghadiri Dialog Pengentasan Kemiskinan melalui Pendidikan di Universitas Boyolali, Senin (26/5/2025).

“Tujuan saya datang ke kampus-kampus adalah bersinergi dan berkolaborasi dalam program pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem,” ujarnya di hadapan Bupati Boyolali Agus Irawan, Rektor Universitas Boyolali Nanik Sutarni, dosen, serta mahasiswa yang hadir dalam forum tersebut.

Agus Jabo menjelaskan bahwa pengentasan kemiskinan merupakan salah satu agenda utama Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah menargetkan kemiskinan ekstrem dapat dihapuskan sepenuhnya pada 2026 dan angka kemiskinan nasional turun di bawah 5 persen pada 2029.

Untuk mencapai target tersebut, kata Agus Jabo, tidak cukup hanya mengandalkan peran Kementerian Sosial. Sehungga diperlukan kerjasama lintas sektor, termasuk kementerian dan lembaga lain, pemerintah daerah, sektor swasta, serta kalangan akademisi.

Dalam paparannya, Wamensos menyampaikan tiga langkah utama yang dilakukan Kemensos untuk mengatasi kemiskinan. Pertama, melalui pembaruan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). “Kita gerakkan 34 ribu pendamping PKH, untuk memastikan kesesuaian data di lapangan,” katanya.

Langkah kedua, menurutnya, adalah perubahan pendekatan dari bantuan pasif ke arah bantuan produktif dan pemberdayaan.

“Saya minta dukungannya, kita mau ubah konsepsinya, kalau sebelumnya kita memprioritaskan kerja di perlindungan sosial, ke depan kita ingin mengubah konsep dari pemberian bantuan pasif, kita ingin bantuan ini menjadi produktif,” katanya.

“Pemberdayaan adalah kita harus menciptakan masyarakat yang produktif, yang ingin usaha, kita berikan usaha,” tambahnya.

Langkah ketiga yaitu memastikan keberhasilan Program Sekolah Rakyat. Sebab tahun ini, pemerintah menargetkan 100 titik Sekolah Rakyat bisa berjalan, dengan 65 titik sudah aktif dan 53 titik sedang dalam proses revitalisasi.

“Kita sedang asesmen usulan-usulan dari Pemda, mereka yang mengusulkan bangunan, kita cek, kita asesmen, apakah tempat yang diusulkan tersebut bisa menjadi tambahan untuk menambah kuota (100 titik),” jelasnya.

Agus Jabo berharap kerja sama dengan institusi pendidikan, termasuk Universitas Boyolali, dapat memperkuat upaya pemberdayaan masyarakat dan percepatan penurunan angka kemiskinan. “Pendidikan adalah alat pembebasan untuk memberdayakan masyarakat miskin, saya berharap Universitas Boyolali bisa menjadi pelopornya,” tutupnya.

Penulis: Rizky Rian Saputra/Ter

Tags:    

Similar News