BSSN gencarkan kolaborasi lintas sektor terkait anomali trafik tinggi
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggencarkan kolaborasi lintas sektor mengingat masih tingginya anomali trafik yang berpotensi menjadi serangan siber di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Elshinta.com - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggencarkan kolaborasi lintas sektor mengingat masih tingginya anomali trafik yang berpotensi menjadi serangan siber di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN Slamet Aji Pamungkas menjelaskan anomali trafik internet tercatat mencapai angka 6,7 miliar pada periode Januari 2020–Mei 2025.
“Berarti setahun bisa ada sekitar 1,1 miliar anomali trafik yang berpotensi menjadi serangan siber,” kata Slamet Aji saat menyampaikan pidato kuncinya pada ITSEC Cybersecurity Summit 2025 di Jakarta, Selasa.
Dia mengatakan angka tersebut merupakan hasil pemantauan yang dilakukan satuan tugas khusus di BSSN. Dalam lima tahun terakhir, tren anomali trafik cenderung turun naik dengan yang tertinggi tercatat pada 2025 (2,07 miliar) dan 2021 (1,65 miliar).
Malware (perangkat lunak berbahaya) menjadi anomali yang paling banyak ditemukan, yakni 83,34 persen dari keseluruhan trafik. Adapun jenis lainnya antara lain akses tidak sah dan kesalahan konfigurasi sistem (5,34 persen), kebocoran data (4,20 persen), eksploit (4,08 persen), serakan aplikasi web (1,03 persen), ancaman persisten tingkat lanjut atau APT (0,86 persen), dan serangan kegagalan layanan atau DoS (0,76 persen).
Pada periode 2020–2025, BSSN telah mengirimkan 8.645 notifikasi terkait anomali trafik tersebut. Dari total notifikasi yang dikirimkan, sebanyak 2.378 di antaranya memberikan respons, sementara 6.267 lainnya tidak.
Slamet Aji menjelaskan dalam Strategi Keamanan Siber Nasional (SKSN), setidaknya ada empat aktor yang terlibat dalam keamanan siber nasional, yaitu pemerintah, industri, komunitas, dan perguruan tinggi.
Adapun pada kesempatan tersebut, BSSN bekerja sama dengan ITSEC sebagai perusahaan yang bergerak di bidang keamanan siber untuk mengoptimalkan upaya mencegah maupun mengendalikan serangan siber.
“Salah satu yang akan kita laksanakan hari ini adalah kita akan bersama-sama melakukan registrasi, melakukan peresmian terbentuknya Tim Tanggap Insiden Siber atau Computer Security Incident Response Team yang dibentuk bersama antara BSSN dan ITSEC,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Direktur ITSEC Asia Patrick Dannacher mengatakan keamanan siber membutuhkan kerja sama yang kuat.
Ia menekankan urgensi kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pembuat kebijakan, pimpinan industri, dan pakar.
“Seiring semakin terhubung dan rentannya infrastruktur kritis, kita memerlukan kerja sama regional yang kuat, pertukaran pengetahuan, serta standar yang terpercaya,” ujarnya.