Kemenag Usahakan Bahan Baku dan Bumbu Guna Penuhi Konsumsi Jemaah
Kementerian Agama (Kemenag) RI berupaya untuk memenuhi konsumsi bagi jemaah haji Indonesia dengan masakan-masakan nusantara selama melaksanakan ibadah haji di Mekkah. Komitmen ini sudah mulai dijalankan sejak tahun 2023 dan masih dievaluasi untuk tahun 2024 ini.

Elshinta.com - Kementerian Agama (Kemenag) RI berupaya untuk memenuhi konsumsi bagi jemaah haji Indonesia dengan masakan-masakan nusantara selama melaksanakan ibadah haji di Mekkah. Komitmen ini sudah mulai dijalankan sejak tahun 2023 dan masih dievaluasi untuk tahun 2024 ini.
Kemenag bekerjasama dengan salah satu jasa boga atau katering untuk menyuplai makanan bagi jemaah haji Indonesia. Koki yang didatangkan pun juga dari Indonesia. Dengan demikian, hasil masakan akan sesuai dengan lidah orang Indonesia karena bumbu dasar yang digunakan berasal dari Indonesia. Selain itu, proses pengiriman bahan-bahan tersebut melalui quality control agar tetap higienis.
“Sejak tahun 2022 setelah pelaksanaan haji, kita sudah usahakan (katering masakan Indonesia). Bagaimana agar bahan racikan untuk konsumsi jemaah haji Indonesia itu bisa dipenuhi dari produk dalam negeri,” kata Menag (Menteri Agama) RI, Yaqut Cholil Qoumas saat diwawancara pasca pertemuan dengan Tim Pengawas Haji DPR RI pada hari Rabu (12/06) WAS.
Pemerintah Indonesia mulai melakukan kesepakatan dagang dengan Pemerintah Arab Saudi setelah pelaksanaan haji tahun 2022. Adanya kesepakatan itu menjadi kemudahan dan jalan legal bagi Indonesia terkait pelayanan makanan bagi jemaah haji. Dalam hal ini, Kementerian Agama menggandeng Kementerian Perdagangan.
“Ketika pertama kita urus, yang pertama kali disampaikan Pemerintah Saudi Arabia ini karena belum ada Mou Dagang antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Saudi Arabia. Kemudian saya datang ke Pak Menteri Perdagangan (Zulkifli Hasan) saya sampaikan hal ini dan tidak lama kemudian beliau terbang kesini untuk membuat Mou. Sehingga bumbu dapur kita pada tahun 2023 sudah bisa masuk, meskipun belum maksimal,” akunya.
Tahun 2024, PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah haji) mendatangkan bumbu dapur sebanyak 70 ton dari Indonesia ke Arab Saudi. Hasil tersebut masih jauh dari target pengiriman, yaitu 300 ton.
“Tahun ini bumbu kita sudah masuk, tetapi lagi-lagi belum maksimal. Karena dari kebutuhan 300 ton kita baru bisa beli 70 ton,” ungkap Yaqut.
Menag juga menyebutkan ada kendala yang menyebabkan pihaknya belum mampu mencukupi kebutuhan bumbu bagi jemaah haji di Arab Saudi. Ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi, seperti SFDA (Saudi Food and Drug Authority). Selain itu, pelibatan UMKM untuk penyediaan bumbu dapur ini dinilai masih kesulitan untuk memenuhi.
“Itu lebih karena produsen kita di Indonesia belum mampu mencukupi apa yang kita butuhkan disini. Karena banyak persyaratan,” pungkasnya.