Top
Begin typing your search above and press return to search.

Cegah korupsi sejak dini dengan terapkan nilai kejujuran di keluarga

Psikolog klinis anak lulusan Universitas Indonesia Ratih Zulhaqqi S.Psi M.Psi mengatakan perlu ada penerapan nilai kejujuran dalam keluarga untuk menanamkan pendidikan anti korupsi pada anak sejak dini.

Cegah korupsi sejak dini dengan terapkan nilai kejujuran di keluarga
X
Siswa memainkan kartu kejujuran di Pusat Edukasi Antikorupsi di perpusatakaan Alun-Alun Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (28/8/2023). Pemerintah Kota Bandung meresmikan pusat edukasi antikorupsi yang ditujukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat khusunya dalam pengawasan pemerintahan serta menanamkan rasa kejujuran terhadap anak sejak dini. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/tom. (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)

Elshinta.com - Psikolog klinis anak lulusan Universitas Indonesia Ratih Zulhaqqi S.Psi M.Psi mengatakan perlu ada penerapan nilai kejujuran dalam keluarga untuk menanamkan pendidikan anti korupsi pada anak sejak dini.

“Misalnya dia berani mengakui kesalahan terus kemudian ketika dia berbuat salah kita coba menerima dulu apa yang dia lakukan terus kemudian mencari jalan keluar, jadi nggak judgment yang dilakukan di awal supaya anak itu berani untuk melakukan sesuatu dengan jujur, berani untuk mengakui kesalahannya,” kata Ratih kepada ANTARA, Kamis.

Ratih mengatakan nilai kejujuran harus diterapkan sejak kecil dan orang tua juga harus berusaha untuk menerima yang dilakukan anak secara jujur. Selain itu, perlu juga untuk ditanamkan untuk menghargai hak milik dan tidak memaksa untuk meminjam jika tidak diizinkan oleh orang lain.

“Jadi ada hal-hal yang memang diberikan pemahaman ke anak bahwa kepemilikan itu penting loh, kita harus minta izin dan kalau yang bukan milik kita ya enggak boleh diambil sembarangan,” katanya.

Psikolog yang praktik di RS Mitra Keluarga ini mengatakan orang tua bisa mengajarkan kepada anak tentang dampak negatif dari korupsi dengan cara pengajaran yang sesuai dengan perkembangan usia anak, misalnya dengan slide bergambar atau buku yang menarik. Orang tua juga perlu membekali dirinya dengan pemahaman korupsi sehingga bisa memberikan contoh konkrit kepada anak agar lebih mudah dipahami bahwa ada konsekuensi ketika melakukan tindakan korupsi.

Misalnya menyontohkan tindakan korupsi secara sederhana yang dilakukan sehari-hari seperti menyontek, korupsi waktu yaitu ketika anak pulang tidak tepat waktu saat diminta pulang pada waktu tertentu, atau korupsi uang ketika tidak melaksanakan amanah untuk bersedekah.

“Bahwa ada konsekuensi loh dari perilaku yang dilakukan, mungkin kalau dapat kesenangan tuh kesenangannya sesaat tapi lebih banyak tuh konsekuensinya, orang tua bisa sering bicara sama anak tentang hal tersebut,” jelas Ratih.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire