Kemenag dorong KIP Kuliah untuk 11 ribu mahasiswa terdampak bencana Sumatra
Kementerian Agama ( Kemenag) sedang memastikan ada tidaknya korban jiwa dari kalangan santri maupun siswa madrasah akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Meski demikian, ribuan peserta didik terdampak secara langsung maupun tidak langsung dan menjadi perhatian serius pemerintah.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, mengatakan Kemenag telah bergerak cepat dengan turun langsung ke lokasi terdampak untuk memastikan kondisi lembaga pendidikan keagamaan, termasuk pondok pesantren dan rumah ibadah yang mengalami kerusakan.
Hal tersebut disampaikan Thobib dalam program Talk Highlight Radio Elshinta, Senin (22/12/2025) malam.
“Kami mendatangi sebuah pesantren di Samalanga, Aceh, yang bangunannya tiga lantai dan berada di tepi sungai. Bangunan tersebut dihantam arus banjir hingga rusak parah. Namun alhamdulillah, tidak ada korban jiwa,” ujar Thobib.
Menurutnya, selain menimbulkan kerusakan fisik, banjir juga berdampak signifikan terhadap aktivitas belajar santri dan siswa madrasah. Kemenag terus melakukan pembaruan data jumlah peserta didik yang terdampak serta menyiapkan langkah-langkah pemulihan lanjutan agar proses pendidikan tetap berjalan.
Kemenag juga memberikan perhatian kepada aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan kementerian yang turut terdampak bencana. Bahkan, kata Thobib, terdapat orang tua salah satu pegawai Kemenag di Aceh yang meninggal dunia akibat banjir bandang.
“Itu juga menjadi perhatian khusus kami,” katanya.
Hak Pendidikan Tetap Terjamin
Terkait dunia pendidikan, Kemenag memastikan seluruh siswa di wilayah terdampak bencana tetap memperoleh hak belajar, termasuk menjelang penerimaan peserta didik baru madrasah yang dijadwalkan berlangsung pada Mei–Juni mendatang.
Menteri Agama, lanjut Thobib, telah menyampaikan kebijakan pembebasan biaya pendidikan bagi peserta didik di daerah terdampak bencana. Untuk madrasah negeri, sejak awal memang tidak dikenakan biaya. Namun dampak paling signifikan dirasakan mahasiswa di perguruan tinggi.
“Yang terdampak langsung adalah mahasiswa perguruan tinggi di Aceh dan Sumatra. Jumlahnya lebih dari 11 ribu mahasiswa,” ungkapnya.
Saat ini, Kemenag mengusulkan agar mahasiswa terdampak mendapatkan bantuan beasiswa, minimal melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Usulan tersebut akan segera dikomunikasikan dengan DPR RI.
“Banyak orang tua mahasiswa kehilangan mata pencaharian—seperti sawah yang terendam dan ternak yang hanyut—sehingga kesulitan membayar UKT. Karena itu kami mendorong agar mahasiswa terdampak mendapat prioritas KIP Kuliah,” jelas Thobib.
Sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam, seperti UIN Ar-Raniry Banda Aceh, juga telah menjalin kerja sama dengan lembaga pengelola zakat untuk membantu pembiayaan pendidikan mahasiswa terdampak bencana.
“Prinsipnya, seluruh siswa dan mahasiswa—baik madrasah maupun perguruan tinggi, negeri maupun swasta—tidak boleh berhenti pendidikannya akibat bencana ini,” tegasnya.
Bantuan Darurat dan Ajakan Solidaritas
Untuk penanganan awal, Kemenag telah menyalurkan anggaran darurat sekitar Rp2,3 miliar guna memenuhi kebutuhan mendesak korban bencana, seperti logistik dan kebutuhan sehari-hari. Adapun kebijakan pembebasan UKT dan skema beasiswa masih terus difinalisasi.
“Ini persoalan kemanusiaan. Jangan sampai kita kehilangan generasi hanya karena bencana,” ujarnya.
Menjelang akhir tahun, Thobib mengajak seluruh pihak untuk bersinergi membantu korban bencana. Ia menekankan pentingnya solidaritas lintas kementerian, lembaga, dan masyarakat sipil.
Selain itu, Kemenag juga mengajak masyarakat menjadikan rangkaian bencana alam sebagai refleksi bersama terhadap kepedulian lingkungan. Thobib menegaskan pentingnya nilai ekoteologi yang selama ini digaungkan Kemenag.
“Kita harus merefleksikan hubungan manusia dengan Tuhan dan alam. Lingkungan tidak boleh dieksploitasi secara berlebihan. Ini bukan hanya soal ekologi, tetapi juga moral dan keimanan,” katanya.
Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya bencana alam. Kemenag pun mengajak masyarakat untuk menjaga alam, tidak membuang sampah sembarangan, serta mengurangi eksploitasi lingkungan demi keberlanjutan bumi.
Menjelang perayaan Natal dan pergantian tahun, Kemenag berharap seluruh lapisan masyarakat dapat menjaga solidaritas, toleransi, dan kebersamaan, serta terus mendoakan dan membantu saudara-saudara yang terdampak bencana di berbagai daerah.
Suwiryo


