KKP lakukan uji ciguatoxin untuk cegah keracunan ikan di Bengkulu
Badan Mutu KKP menguji kandungan ciguatoxin pada ikan konsumsi untuk mewaspadai kasus keracunan yang sempat terjadi di Bengkulu. ANTARA/HO-Dokumen Pribadi
Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) menguji kandungan ciguatoxin pada ikan konsumsi untuk mewaspadai kasus keracunan yang sempat terjadi di Bengkulu.
"Saya telah instruksikan kepada Kepala UPT Badan Mutu KKP Bengkulu untuk melaksanakan surveilans mutu dan keamanan ikan dan produknya, termasuk yang terkait uji toksin, karena di perairan Bengkulu menurut nelayan setempat masih terjadi fenomena algae blooming yang harus kita waspadai dan lakukan tindakan berbasis ilmiah," kata Kepala BPPMHKP Pusat Isharini lewat pesan elektronik di Bengkulu, Senin.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Mutu KKP di wilayah Bengkulu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Stasiun PPMHKP Bengkulu Kukuh Andias Purbianti mengatakan pihaknya telah menyusun program surveilans mutu dan keamanan hasil perikanan untuk mengantisipasi potensi keracunan ikan akibat ciguatoxin.
"Sesuai arahan kepala badan, di daerah kami telah melaksanakan surveilans ciguatoxin melalui pengambilan sampel untuk kemudian dilakukan pengujian di laboratorium rujukan milik Badan Mutu KKP yaitu BUSPM Jakarta Timur. Sampel yang kami ambil Ikan Swangi dan Ikan Kakap Merah sejak pertengahan Januari lalu," kata Kukuh.
Dia menjelaskan kegiatan surveilans dilakukan dengan sinergi bersama sejumlah instansi terkait, antara lain UPTD PPP Pulau Baai, PPS Bungus, dan penyuluh perikanan Kota Bengkulu.
Sampel ikan diambil dari Pelabuhan Pulau Baai yang berasal dari perairan yang kerap dilaporkan nelayan mengalami fenomena algae blooming pada waktu tertentu.
Menurut dia, seluruh sampel kemudian dikirim ke Jakarta untuk menjalani uji ciguatoxin karena laboratorium rujukan tersebut memiliki peralatan lengkap dan telah terakreditasi, termasuk untuk pengujian toksin ikan.
"Hasil pengujian kami dapatkan dalam waktu tujuh hari dengan metode Mouse BioAssay dan hasilnya menunjukkan bahwa seluruh sampel yang kami ambil negatif ciguatoxin," ujarnya.
Ciguatoxin merupakan neurotoksin kuat yang dihasilkan mikroalga di terumbu karang tropis dan dapat terakumulasi pada ikan karang besar menyebabkan keracunan ikan ciguatera (CFP) pada manusia.
Toksin tahan panas ini terakumulasi dalam ikan karang besar (kerapu, barracuda, kakap) dan menyebabkan gejala gastrointestinal, neurologis, hingga kardiovaskular, bahkan kematian akibat gagal napas.
Kukuh menambahkan kegiatan surveilans ciguatoxin akan dilakukan secara berkelanjutan terutama pada periode yang diperkirakan terjadi algae blooming untuk memastikan ikan yang dikonsumsi masyarakat Bengkulu tetap bermutu dan aman. Kegiatan tersebut tentunya dengan melibatkan pemerintah daerah dan instansi terkait.


