Ichsan Marsha tegaskan pentingnya etika media bagi Petugas Haji 2026
Tri Sukses Haji dan Haji Ramah Lansia, Perempuan, Disabilitas didukung publikasi bijak.
Sumber foto: Kemenhaj
Petugas haji 2026 wajib menjaga etika publikasi demi citra bangsa Indonesia di mata dunia. Kewajiban ini menjadi bagian dari profesionalisme penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M.
Tenaga Ahli Bidang Humas dan Media Kementerian Haji dan Umrah RI, Ichsan Marsha, menegaskan etika publikasi penting agar informasi tetap positif, akurat, dan mencerminkan martabat bangsa.
"Petugas haji bukan hanya pelayan jemaah, tetapi juga wajah negara. Apa yang kita unggah, itulah yang publik nilai," kata Ichsan, di acara Diklat Petugas Haji Kloter Terintegrasi di Embarkasi Banjarmasin, Kamis (6/2/2026).
Penyelenggaraan haji tahun ini mengedepankan prinsip Tri Sukses Haji serta semangat Haji Ramah Lansia, Perempuan, dan Disabilitas. Etika publikasi menjadi landasan agar informasi dapat mengedukasi jemaah dengan santun dan empati.
Menurut Ichsan, petugas harus satu suara mendukung kebijakan Kementerian Haji dan Umrah agar keluarga jemaah di tanah air merasa tenang.
Ichsan menekankan pentingnya tanggung jawab digital karena aturan ketat dari otoritas Arab Saudi.
"Media sosial bukan ruang bebas. Satu unggahan bisa menimbulkan kegaduhan nasional. Ini bukan soal viral, ini soal konsekuensi," ujarnya.
Sebagai edukasi, petugas diingatkan mematuhi regulasi General Authority of Media Regulation Arab Saudi. Larangan ketat meliputi pengambilan gambar di area militer, gedung pemerintah, dan menjaga privasi individu.
Publikasi bijak diharapkan menularkan adab dan memperkuat kepercayaan publik terhadap profesionalisme haji 2026. Petugas yang cermat dalam publikasi menjadi teladan sekaligus menjaga martabat bangsa.
Ichsan menutup arahannya dengan mengajak petugas melakukan filtrasi mandiri sebelum membagikan konten ke media sosial.
"Tahan 10 detik, pikirkan dampaknya. Petugas menularkan adab, bukan hanya layanan. Bijak bermedia, aman bertugas, dan khusyuk beribadah," pungkasnya.
Peringatan ini menegaskan bahwa setiap unggahan petugas haji memiliki konsekuensi serius, baik untuk citra bangsa maupun keamanan digital jemaah.
Ichsan mengatakan, Tri Sukses Haji menekankan penyelenggaraan ibadah yang lancar, aman, dan nyaman. Publikasi yang tepat membantu menyampaikan nilai itu ke keluarga jemaah di Indonesia.
Dengan prinsip Haji Ramah Lansia, Perempuan, dan Disabilitas, petugas tidak hanya melayani fisik jemaah, tetapi juga memperhatikan komunikasi yang sopan dan penuh empati.
Ia menekankan, kewajiban menjaga etika media digital menjadi bagian dari tanggung jawab profesional petugas. Ini menegaskan bahwa layanan haji modern tidak hanya soal fisik, tetapi juga persepsi publik.
Filtrasi mandiri sebelum unggah konten menjadi kunci menjaga kekhusyukan ibadah dan citra Indonesia. Setiap petugas diajak berpikir kritis tentang dampak unggahan terhadap publik dan jemaah.
Ichsan mengatakan, publikasi yang bijak turut menegaskan integritas petugas haji. Konten yang disiarkan akurat, santun, dan mendidik menjadi bentuk tanggung jawab moral.
Dengan disiplin etika media, petugas haji menjadi teladan bagi jemaah dan masyarakat. Hal ini memastikan ibadah berlangsung khusyuk sekaligus memperkuat citra Indonesia.
Bhery Hamzah/Rama


