Imbas konflik Iran, harga plastik naik, pedagang kecil tertekan
Kenaikan harga plastik akibat terganggunya pasokan bahan baku dari Timur Tengah membuat biaya operasional pedagang kecil meningkat.
Foto: Heru Lianto/Radio Elshinta
Kenaikan harga plastik mulai membebani pedagang kecil di sejumlah daerah. Lonjakan harga ini dipicu terganggunya pasokan bahan baku akibat konflik di Iran.
Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya biaya operasional, sementara penjualan belum sepenuhnya pulih pasca-Lebaran.
Pedagang nasi goreng, Arka Wijaya (29), mengaku kenaikan harga plastik sudah dirasakan sejak Lebaran.
“Sejak Lebaran sudah naik. Yang biasanya Rp25.000 sekarang jadi Rp30.000, yang Rp10.000 jadi Rp12.000,” ujarnya kepada Radio Elshinta, Rabu (1/4/2026) malam.
Ia mengatakan, hampir semua jenis plastik mengalami kenaikan, baik ukuran besar maupun kecil.
Meski demikian, Arka memilih menahan harga jual makanannya demi menjaga pelanggan. Kondisi ini membuat margin keuntungan semakin tipis.
“Kalau harga dinaikkan, takut pelanggan berkurang. Tapi sekarang modal jadi agak seret,” katanya.
Hal serupa dirasakan pedagang pecel lele, Parti (57). Ia menyebut kenaikan harga plastik cukup signifikan, bahkan untuk beberapa jenis mencapai dua kali lipat.
“Naiknya lumayan, ada yang sampai dua kali lipat. Semua jenis plastik naik, jadi makin berat,” ujarnya.
Parti mengaku tetap menahan harga jual meski beban biaya meningkat.
“Kalau harga dinaikkan, nanti pelanggan lari. Jadi terpaksa ditahan dulu,” katanya.
Para pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga plastik agar usaha kecil tetap bertahan.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan kenaikan harga plastik dipicu konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang mengganggu pasokan bahan baku dari Timur Tengah.
Ia menjelaskan, salah satu bahan utama plastik, yaitu nafta, banyak dipasok dari kawasan tersebut.
Pemerintah saat ini tengah mencari alternatif pemasok dari negara lain untuk mengurangi ketergantungan impor.
"Misalnya dari negara Afrika, India, dan Amerika,” kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Heru Lianto/Rama


