Jalur Lembah Anai yang kembali diterjang "galodo"

Lembah Anai di perbatasan Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Kota Padang Panjang merupakan kawasan ikonik di Sumatera Barat yang dilintasi jalan nasional.

By :  Widodo
Update: 2025-11-29 15:20 GMT

Foto udara suasana pembersihan material longsor oleh petugas gabungan di Jembatan Kembar Silaiang, Padang Panjang, Sumbar, Sabtu (29/11/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Ali/sgd

Lembah Anai di perbatasan Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Kota Padang Panjang merupakan kawasan ikonik di Sumatera Barat yang dilintasi jalan nasional yang menghubungkan Kota Padang dengan Kota Bukitinggi dan beberapa daerah lainnya di utara provinsi itu.

Jalur lintas berkelok dengan panorama indah nan lengkap khas landskap tanah Minangkabau, tebing tinggi yang hijau serta aliran Sungai Batang Anai yang meliuk-liuk.

Bila masuk kawasan Lembah Anai dari wilayah Kabupaten Padang Pariaman, orang akan disambut gerbang Selamat Datang di Kabupaten Tanah Datar, kemudian disuguhi pemandangan elok Air Terjun Anai. Setelah itu ada jalur berkelok-kelok dengan panorama indah.

Setelah melintasi jalur menanjak dengan beberapa kelokan menurun dari arah Padang Panjang, pelaju akan disuguhi pemandangan indah jembatan kereta lawas dengan beberapa jembatannya yang melintang di atas jalan raya.

Selanjutnya Jembatan Kembar Silaiang dekat Gerbang Kota Padang Panjang. Dari sana masih ada pendakian sekitar tiga kilometer hingga akhirnya masuk ke Kota Padang Panjang.

Alur lembah hijau nan indah itu adalah Cagar Alam Lembah Anai, kawasan konservasi penting di Sumbar untuk melindungi hutan tropis dan keanekaragaman hayati yang ada di sekitarnya.

Galodo

Terlepas dari potensi dan keindahan alam di sana, Alur Sungai Batang Anai yang menjadi bagian keindahan kawasan itu juga memendam potensi bencana yang luar biasa.

Karena itu pula sementara waktu keindahan jalur itu tidak bisa dinikmati pelintas di jalur tersebut ketika galodo memutus jalur itu sejak Kamis (27/11/2025).

Potensi bencana di sana itu hadir dalam bentuk aslinya sebagai peristiwa yang mengerikan. Galodo atau banjir bandang menjadi fenomena yang mengancam dan terbukti menjadi fenomena yang mematikan dalam dua kejadian pada tiga tahun terakhir di kawasan itu.

Galodo yang merupakan banjir bandang di aliran Sungai Batang Anai itu telah menjadi fenomena yang mengerikan. Pemprov Sumbar memutuskan untuk menutup kawasan lembah Anai di sana dari aktifitas wisata, meski belum sepenuhnya bisa dituntaskan karena masih ada pihak-pihak yang bertahan.

Banjir bandang yang terjadi pada Kamis (27/11/2025) siang itu mengulang peristiwa traumatis warga di sana. Peristiwa itu dipicu cuaca buruk, hujan yang turun dengan intensitas tinggi sejak Sabtu (22/11/2025).

Galodo menyapu kawasan pemukiman yang dihuni puluhan kepala keluarga di kawasan Silaiang Gerbang Kota Padang Panjang. Luapan Sungai Batang Anai meratakan pemukiman bahkan material lumpur dan bebatuan menutup jalan nasional Padang - Padang Panjang - Bukitinggi sehingga jalur itu putus total.

Sungai Batang Anai yang biasa pada kondisi normal begitu bening nan jernih, berubah menjadi keruh, coklat pekat akibat material tanah, lumpur dan bercampur kerikil serta bebatuan.

Alirannya berubah mematikan seakan menunjukkan kemarahannya yang luar biasa menghantam dan menerjang sepanjang tepian sungai itu hingga ke muara di wilayah pantai di perbatasan Kota Padang dan Padang Pariaman.

Sungai Batang Anai juga merendam beberapa titik ruas jalan Padang - Bukitinggi. Akibatnya arus lalu lintas ke Padang Panjang, Kota Bukitinggi terputus, ratusan rumah terendam dan terdampak.

Usai galodo, di sepanjang alirannya menyisakan bekas-bekas hebatnya luapan air berlumpur serta hanyutnya batang pepohonan. Kerusakan akibat galodo di Lembah Anai berlanjut. Jalan Nasional beraspal mulus di Lembah Anai yang ditutup, kembali tak berkutik saat dihantam terus-terusan aliran Galodo di Sungai Batang Anai.

Dan terjangan hebat dari banjir bandang di sungai itu mengakibatkan badan jalan nasional amblas. Jalan yang rusak berada di KM53+500 Sumatera Barat. Jalan yang membentang di kawasan yang disebut Mega Mendung itu amblas dan habis terkikis sepanjang 150 meter dengan ketinggian 4-7 meter dari permukaan sungai.

Satu-satunya ruas jalan yang bisa dilintasi adalah Jalur Tanjakan Sitinjau Lauik melalui jalur Padang - Sitinjau Lauik, Solok - Tanah Datar/ Batusangkar - Bukitinggi.

Kali kedua lumpuh

Tergerus dan putusnya jalur nasional Padang - Bukitinggi di Lembah Anai itu merupakan yang kedua kali dalam tiga tahun terakhir. Kejadiannya hampir serupa akibat cuaca hujan tinggi yang memicu banjir bandang.

Jalur jalan nasional di Lembah Anai itu juga sempat terputus pada Mei 2023. Kasusnya hampir sama. Butuh setahun pemerintah untuk melakukan perbaikan dan menormalisasi ruas jalan di sana. Perbaikan itu baru tuntas serta dioperasikan lagi pada Juli 2024 dan 16 bulan kemudian kawasan itu kembali dihantam banjir bandang.

Lumpuhnya jalur Padang - Bukitinggi, termasuk di jalur alternatif Padang - Malalak - Bukittinggi, jelas sangat berpengaruh terhadap jalus distribusi kebutuhan pokok masyarakat, pasokan BBM dan elpiji, pariwisata dan terputusnya akses transportasi.

Salah satunya pasokan BBM dan elpiji yang digawangi Pertamina ke kawasan bagian barat dan utara Sumbar seperti Padang Panjang, Tanah Datar, Bukitinggi, Payakumbuh, Agam, Lima Puluh Kota menjadi terhambat. Padahal pasokan BBM dan elpiji dari daerah itu dipasok dari Depo Pertamina di Teluk Kabung Kota Padang. Truk tanki BBM dan elpiji harus melakukan manuver angkutan distribusi melalui jalur Sitinjau Lauik.

Arus lalu lintas juga beralih ke jalur Sitinjau Lauik, sehingga jalur itu menjadi lebih sibuk dan padat lagi. Padahal jalur dengan tanjakan dan turunan tajam itu juga memiliki beberapa potensi hambatan akibat faktor alam dan cuaca buruk.

Entah berapa lama normalisasi jalur nasional ini bisa tuntas, semoga bisa secepatnya karena jalur itu sangat vital. Namun tentunya bukan hal mudah untuk bisa mendapatkan formasi material yang kuat untuk bisa membuat jalan menjadi kuat atau bisa menghindari terjangan galodo.

Tentunya banyak alternatif yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk memberikan solusi bagi jalan di Lembah Anai. Provinsi Sumatera Barat juga memiliki dua jalur ikonik yang sudah dan sedang dibangun. Pertama dibuat dalam bentuk jembatan seperti solusi di Kelok Sembilan di Payakumbuh. Satu lagi yang sedang dikerjakan Fly Over Sitinjau Lauik yang sedang dalam proses tahap awal pembangunan.

Maka jalan ikonik Lembah Anai juga tidak menutup kemungkinan dibuatkan solusi serupa, yakni jembatan layang yang bisa menghindari terjangan galodo, sehingga peristiwa putusnya jalan tidak terulang di kemudian hari.

Sebenarnya satu jembatan sudah dihadirkan pemerintah di Lembah Anai, yakni jembatan kedua di kawasan Silaiang Barat Gerbang Kota Padang Panjang, sehingga kawasan itu dikenal sebagai Jembatan Kembar Silaiang.

Semoga jalan nasional Lembah Anai bisa kembali normal, sehingga bisa kembali dinikmati keindahan serta manfaatnya untuk masyarakat.

Similar News