Menjemput kepahlawanan Aji Galeng dari lorong sejarah Nusantara

Update: 2026-01-11 01:40 GMT
Elshinta Peduli

Ada jejak kepahlawanan yang hampir saja tertutup, dan mesti disingkap kembali dari balik mega proyek Ibu Kota Nusantara di tanah Sepaku. Ia adalah Aji Galeng, penjaga Telake Balik yang membuktikan bahwa tanah itu tak pernah kosong dari peradaban.

Kalimantan adalah wilayah besar yang seakan-akan senyap dalam historiografi Indonesia. Sebagai pulau terbesar ketiga di dunia, narasi sejarahnya sering kali tenggelam, tertimbun oleh dominasi histori Jawa-sentris yang begitu kental dalam kurikulum pendidikan nasional.

Publik akrab dengan Perang Diponegoro atau Perang Paderi, sedangkan epos perlawanan di belantara Borneo kerap dianggap sekadar riak kecil di pinggiran kolonialisme. Memang ada sejarah perlawanan Banjar yang digawangi Pangeran Antasari, tapi di tanah Kalimantan Timur, ceritera heroik lokal tak begitu kuat dilempar ke permukaan.

Padahal, seperti dicatat oleh sejarawan Sartono Kartodirdjo, penulisan sejarah lokal adalah conditio sine qua non--syarat mutlak--untuk memahami mosaik sejarah nasional secara utuh. Tanpa itu, Indonesia adalah bangunan yang pincang.

Kekosongan itulah yang coba diisi oleh penulis Bambang Arwanto bersama Safardy Bora dalam buku “Aji Galeng dari Paser Utara: Penjaga Negeri Peletak Peradaban”. Buku ini bukan sekadar biografi tokoh lokal. Ia bak manifesto untuk melawan amnesia sejarah. Terutama di wilayah yang kini menjadi sorotan, Ibu Kota Nusantara (IKN).

Ksatria dari Lemiang

Mari tarik mundur untuk mengenal sekilas tentang itu Aji Galeng. Bagi masyarakat modern yang kini memadati jalanan di Penajam Paser Utara hingga Kutai Kartanegara, nama ini mungkin terdengar asing. Namun, pada abad ke-19, Panembahan Lambakan atau lebih dikenal dengan nama Aji Galeng adalah poros kekuatan di wilayah Telake Balik.

Elshinta Peduli

Ia bukan sekadar anak penguasa Lemiang. Narasi dalam buku ini menggambarkan sosok Aji Galeng sebagai pemimpin yang tumbuh dari tempaan fisik dan spiritual. Kisah heroiknya mengalahkan 30 jawara pilihan, serta perjalanan intelektualnya menuntut ilmu hingga ke Kerakup Bentian (Kutai Barat), membentuk karakternya menjadi pemimpin yang tak hanya tangguh secara otot, tapi juga visioner dalam otak.

Dalam hikayatnya, kekuatan terbesar Aji Galeng bukan pada pedangnya, melainkan pada kemampuan diplomasinya. Dalam lanskap politik pesisir Kalimantan Timur yang dinamis, di mana Kesultanan Kutai dan Paser menjadi episentrum kekuasaan, Aji Galeng muncul sebagai katalisator.

Ia memiliki zuriat (garis keturunan) yang menjalin simpul antara Kesultanan Paser, Kesultanan Kutai Kartanegara, hingga Kerajaan Wajo di Sulawesi. Gelar-gelar yang melekat pada leluhurnya adalah Kakah Demong Nata Kusuma Diningrat hingga Daeng Mabela.

Ia berhasil merangkul Suku Dayak Lawangan dan membangun kohesi sosial melalui konsep Diwa Siwi atau Nyempolo. Ini adalah perwujudan gotong royong tanpa pamrih, sebuah etos kerja yang senapas dengan filosofi Jawa “sepi ing pamrih rame ing gawe”.

Relevansi Aji Galeng menjadi sangat tajam ketika kita melihat peta geopolitik ekonomi masa itu yang ternyata beririsan dengan lokasi IKN hari ini.

Salah satu babak paling krusial dalam hidup Aji Galeng adalah perlawanannya terhadap imperialisme ekonomi. Di masa itu, sarang burung walet di goa-goa sekitar Sungai Toyu dan Sepaku bukan sekadar komoditas; itu adalah "emas putih" yang diincar oleh kekuatan asing, baik Belanda maupun Inggris.

Sepaku, yang kini menjadi titik nol pembangunan istana negara, dulunya adalah medan laga di mana Aji Galeng berdiri membentengi sumber daya alamnya. Ia mempertahankan goa-goa itu dari aneksasi penjajah. Perlawanan ini bukan sekadar soal mempertahankan wilayah, tapi sebuah pernyataan kedaulatan ekonomi.

Diplomasi Aji Galeng dalam meletakkan dasar kohesi sosial di masyarakat menjadi benteng yang lebih kuat daripada meriam manapun. Hubungannya yang harmonis dengan Kesultanan Kutai Kartanegara dan Kesultanan Paser membuat wilayah Telake Balik menjadi zona penyangga yang stabil, sekaligus membuktikan bahwa masyarakat lokal memiliki sistem tata kelola pemerintahan yang rapi sebelum kedatangan bangsa Eropa.


Menggali ingatan

Menulis sejarah Aji Galeng bukanlah perkara mudah. Bambang Arwanto, penulis buku ini, yang merupakan keturunan generasi kelima Aji Galeng, menghadapi tembok yang kerap menghalangi penulisan sejarah lokal di Indonesia, yakni minimnya sumber tertulis.

Buku ini secara jujur mengakui ketergantungannya pada oral history (sejarah lisan). Seperti yang diungkapkan teori Allen dan Montell, sumber lisan sering kali dianggap kelas dua dibandingkan arsip kolonial yang rapi. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Dalam masyarakat yang tradisi tulisnya dimatikan atau tidak berkembang, ingatan kolektif tetua adat adalah perpustakaan yang hidup.

"Tantangan bagi penulis adalah memverifikasi memori kolektif tersebut dengan sumber primer sezaman agar narasi tidak terjebak menjadi mitos belaka," cakap Bambang.

Penerbitan buku ini pada tahun 2025 di Kalimantan Timur menemukan momentum yang sangat politis dan puitis. Narasi perpindahan IKN tak boleh dibarengi dengan istilah tabula rasa, seolah-olah Kalimantan Timur adalah kanvas kosong yang siap dilukis oleh peradaban baru dari pusat.

"Narasi ini berbahaya karena berpotensi memutus akar sejarah masyarakat setempat," ungkap Bambang.

Kisah Aji Galeng adalah antitesis dari anggapan tanah kosong tersebut. Jauh sebelum proyek besar menderu di Penajam Paser Utara, di sana telah berdiri sebuah tatanan masyarakat yang beradab, religius, dan berdaulat. Wilayah Telake Balik di abad ke-19 adalah bukti bahwa pusat peradaban pernah eksis di zona yang kini disebut Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara.

Nilai-nilai kepemimpinan Aji Galeng yang berbasis pada kearifan lokal dan perlindungan terhadap alam seharusnya menjadi nyawa bagi pembangunan IKN. Bahwa pembangunan kota masa depan tidak boleh mencabut memori masa lalu.

Menghadirkan Aji Galeng ke dalam kesadaran publik hari ini adalah upaya agar masyarakat Kalimantan Timur tidak menjadi tamu di tanahnya sendiri.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News