Panen padi di Lebak tingkatkan produksi pangan dan ekonomi petani
Panen padi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten pada Februari 2026 dapat meningkatkan produksi pangan dan ekonomi petani, sehingga mewujudkan kesejahteraan.
Panen padi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten pada Februari 2026 dapat meningkatkan produksi pangan dan ekonomi petani, sehingga mewujudkan kesejahteraan.
"Kita merasa senang panen padi di wilayahnya seluas 50 hektare tanpa terserang hama," kata Ketua Kelompok Tani Blok Sentral Desa Rangkasbitung Timur Kabupaten Lebak, Udin di Lebak, Sabtu.
Para petani di wilayahnya di Blok Sentral Rangkasbitung Kabupaten Lebak musim panen secara serentak dan dipastikan ketersediaan pangan relatif melimpah juga peningkatan ekonomi.
Mereka penampung gabah basah hasil panen tersebut, ditampung dengan harga Rp6.500 per kilogram sesuai patokan pemerintah.
Kebanyakan penampung yang datang ke sini para pemilik pabrik penggilingan padi untuk dijadikan produksi beras.
"Kami sendiri memiliki lahan seluas satu hektare dan produktivitas 6 ton gabah basah dan dijual 5 ton dengan harga Rp6.500/kg, sehingga menghasilkan Rp32,5 juta, sedangkan sisanya 1 ton untuk cadangan pangan keluarga," kata Udin.
Begitu juga petani lainnya, Misbah mengaku panen padi Februari 2026 relatif baik dan menguntungkan, selain tidak terserang hama maupun penyakit juga biaya produksi lebih ringan hingga Rp7,5 juta/hektare setelah harga pupuk subsidi turun, padahal, sebelumnya biaya produksi Rp10 juta/hektare.
"Kami menghasilkan panen 6 ton gabah basah dan 5 ton dijual dengan menghasilkan uang Rp 32,5 juta, sedangkan sisanya 1 ton untuk cadangan pangan keluarga hingga kembali panen," katanya menjelaskan.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sukabungah Desa Tambakbaya Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak Ruhiana mengatakan, pendapatan usaha pertanian pangan di wilayahnya bisa menghasilkan perputaran uang Rp3,7 miliar per musim panen dari lahan 150 hektare dengan 200 anggota.
Saat ini, petani binaannya musim panen raya dan dipastikan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
Produktivitas padi setiap panen bisa menghasilkan gabah basah sebanyak 5 ton per hektare dan kebanyakan benih Inpari 32 dan waktu masa panen 90-100 hari setelah tanam.
Dari produktivitas 5 ton per hektare itu dikalkulasikan dengan lahan seluas 150 hektare sehingga bisa menghasilkan gabah basah panen 750 ton dan jika dikonversikan beras menjadi 370 ton.
"Jika harga beras itu dijual Rp10 ribu per kilogram dengan produksi 370 ton maka dapat menghasilkan uang Rp3,7 miliar per musim panen selama empat bulan atau rata-rata Rp25 juta per hektare," kata Ruhiana.
Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar mengatakan, saat ini potensi panen sepanjang Januari 2026 seluas 15.115 hektare dengan produktivitas gabah basah antara 5 sampai 6 ton per hektare.
"Kami meyakini perputaran uang dari hasil panen padi miliaran rupiah, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani," katanya.


