Permintaan kopi Papua capai 200 ton per minggu, pegiat harap dukungan Wapres
Tingginya permintaan kopi Papua dinilai belum sebanding dengan kemampuan produksi petani, sehingga dibutuhkan kerja sama menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Foto: BPMI Setwapres
Permintaan kopi Papua Pegunungan disebut mencapai 50 hingga 200 ton per minggu. Pegiat kopi berharap dukungan nyata pemerintah dan Wakil Presiden.
Harapan itu disampaikan Ketua Asosiasi Petani dan Penggiat Kopi Papua Pegunungan (PPKPP), Franky Gombo, saat bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming di Café Dik’s, Wamena, Papua Pegunungan, Selasa (13/1/2026). Acara digelar untuk berdiskusi dan menyerap aspirasi pelaku UMKM.
Franky menyebut tingginya permintaan menjadi tantangan besar bagi petani. Ia menilai perlu kerja sama menyeluruh dari hulu hingga hilir.
"Permintaan bisa mencapai 50 hingga 200 ton per minggu. Ini menjadi tantangan karena kami tidak bisa berjalan sendiri," katanya.
Menurutnya, dukungan tidak cukup hanya alat produksi. Petani membutuhkan penguatan manajemen, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan.
“Kami berharap ada pusat pelatihan dan pendampingan yang terus dimonitor,” ujarnya.
PPKPP menaungi petani dan pegiat kopi dari delapan kabupaten di Papua Pegunungan. Asosiasi ini berdiri pada 2022 dan aktif memberdayakan anak muda.
Produk kopi Papua Pegunungan juga telah menembus pasar internasional. Kopi ini mendapat penghargaan dan diekspor ke Belanda, Italia, Australia, dan Kanada.
Franky menyebut kunjungan Wakil Presiden membawa semangat bagi masyarakat Papua dan pelaku UMKM.
Sri Lestari/Rama

