Wamendikdasmen tinjau KBM hari pertama pascabencana Padang
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Prof Atip Latipulhayat meninjau proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 12 Kota Padang, Sumatera Barat pascabanjir bandang dan tanah longsor yang melanda provinsi setempat.
"Pertama, perlu saya sampaikan bahwa kedatangan kami ke sini untuk menandai dimulainya pembelajaran di tiga provinsi terdampak bencana terutama di Kota Padang," kata Wamendikdasmen Prof Atip Latipulhayat di Kota Padang, Senin.
Rangkaian kunjungan tersebut diawali dengan Upacara Bendera dimana Wamendikdasmen bertindak sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya Prof Atip berpesan agar para guru dan anak didik tidak patah semangat pascabencana ekologis yang melanda di akhir November 2025.
Prof Atip mengatakan kehadirannya ke SMA Negeri 12 Kota Padang tidak hanya sekadar meninjau kesiapan KBM. Namun, lebih dari itu juga memotivasi anak didik untuk segera bangkit dan menjadikan musibah tersebut sebagai kekuatan untuk bangkit mencapai cita-cita pendidikan.
"Kami datang ke Padang untuk melihat dan memastikan kesiapan pembelajaran awal tahun ini," ujarnya.
Setelah upacara Wamendikdasmen berkeliling sekolah untuk mengecek beberapa ruangan yang terdampak banjir bandang. Selain itu, Kementerian terkait juga menyalurkan bantuan uang tunai masing-masing Rp15 juta untuk tingkat SMA, SMP dan sekolah dasar.
Selain itu, anak didik juga menerima bingkisan berupa alat tulis hingga makanan ringan.
"Alhamdulillah dengan berbagai keterbatasan yang ada, proses pembelajaran bisa kita mulai dan harus kita mulai," ujar dia.
Berdasarkan data per 4 Januari 2025, tercatat 4.470 satuan pendidikan terdampak bencana di Sumatera dengan kondisi kerusakan yang beragam, mulai dari rusak ringan hingga rusak total. Dari jumlah tersebut Provinsi Aceh menjadi wilayah terdampak terbesar dengan jumlah 2.756 sekolah/satuan pendidikan terkena dampak banjir dan longsor. Kemudian di Sumatera Utara sebanyak 1.213 satuan pendidikan dan di Ranah Minang sebanyak 501 sekolah.
Terakhir, ia mengatakan Indonesia merupakan bangsa yang telah teruji dalam menghadapi berbagai tantangan. Bahkan pernah lebih berat dari kondisi saat ini. Oleh sebab itu, kedaruratan saat ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak bisa mencapai tujuan pendidikan.


