Dan orang utan pun ikut berlebaran
Perayaan Lebaran Idul Fitri ternyata bukan hanya untuk dirayakan manusia saja. Empat ekor bayi orang utan yang dirawat di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Longsam, Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur ini salah satunya.
Sumber foto: Rizkia/elshinta.com.
Perayaan Lebaran Idul Fitri ternyata bukan hanya untuk dirayakan manusia saja. Empat ekor bayi orang utan yang dirawat di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Longsam, Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur ini salah satunya. Empat bayi orang utan dan seekor owa juga melaksanakan perayaan Idul Fitri yang mana PPS Longsam ini di kelola oleh Conservation Action Network (CAN). Berbeda dari sebelumnya, kali ini pemberian pakan pada hewan–hewan yang dirawat di sana dibalut dengan ketupat layaknya perayaan lebaran, sederhana namun istmewa di tengah hutan belantara tempat bayi-bayi orang utan tersebut dirawat hingga dapat dilepasliarkan kembali.
Pakan orang utan dimasukan ke dalam ketupat dan digantung di area bermain orang utan, sehingga bayi-bayi orang utan tersebut seperti sedang memetik buat dari pohon-pohon hal ini sekaligus mengajarkan bayi-bayi orang utan cara memetik buah dan mencari makanan. Sedangkan untuk owa ketupat di ikat didahan yang dipenuhi dedaunan dan di masukan ke dalam kandang.
Sama halnya yang dilakukan di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Kabupaten Berau yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP). Makanan dimasukkan ke dalam ketupat lalu digantung di dahan pohon. Saat orang utan menjalani sekolah hutan, satwa endemik Kalimantan Timur ini akan berupaya meraihnya, membuka ketupat, lalu memperoleh makanan.
Founder & Direktur Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto mengungkapkan setiap moment di konservasi adalah kesempatan untuk berkemang dan belajar bagi satwa-satwa yang dalam masa pemulihan disana.
“Bagi kami di CAN, setiap momen adalah kesempatan belajar, termasuk di hari kemenangan ini. Metode pengayaan (enrichment) ketupat yang kami terapkan di sekolah hutan bertujuan untuk menantang batas kemampuan fisik dan kognitif para bayi orang utan. Kami sengaja menggantung ketupat-ketupat ini di Play Ground,” tuturnya dihubungi via whatsapp, Jumat (27/3/26).
Hal ini bertujuannya jelas karena ingin merangsang orang utan dan owa untuk tetap aktif bergerak ke atas meraih makanan. Orang utan harus memanjat, bergelantungan, dan menggunakan koordinasi tangan serta kaki mereka untuk meraih 'hadiah' Lebaran tersebut. Hal ini adalah simulasi nyata bagaimana mereka nantinya harus berkompetisi mendapatkan buah hutan yang matang di pucuk pohon.
Selain melatih fisik, proses membuka anyaman ketupat melatih kesabaran dan ketangkasan jemari mereka. Melihat antusiasme yang luar biasa mereka tidak sekadar makan, tapi benar-benar terlibat dalam proses 'berburu' makanan tersebut. Optimisme sederhana, setiap kali mereka berhasil memecahkan tantangan di sekolah hutan, mereka selangkah lebih dekat untuk kembali menjadi penguasa rimba yang mandiri.
“Sederhana saja, kami ingin melatih kesabaran dan ketangkasan jari mereka, melihat mereka antusias yang bukan sekedar makan tapi benar-benar proses berburu makanan itu sendiri, mereka berhasil memecahkan tantangan disekolah hutan, hal kecil yang bikin mereka selangkah lebih dekat untuk bisa mandiri di rimba nanti. Selamat Lebaran, selamat kembali ke fitrah alami bagi para penghuni hutan,” ucapnya.
Manajer Bornean Orang utan Rescue Alliance (BORA), Widi Nursanti menyatakan hal ini adalah cara-cara sederhana namun dengan sedikit kreativitas memperkaya imajinasi dan variasi penyajian media yang dipakai untuk menyajikan makanan mereka.
“Pada intinya enrichment itu membuat mereka sibuk, berpikir, belajar dan mencari cara bagaimana menyantap hidangan, khususnya Orang utan yang sedang menjalani proses rehabilitasi baik di enclosure ataupun kandang,” ungkap Widi yang juga dihubungi via telepon.
Idul Fitri tak lepas dari tradisi lebaran Ketupat yang diperingati seminggu setelah lebaran Idul Fitri. Enrichment berbentuk ketupat menjadi hal yang unik, tenta saja isinya potongan buah-buahan, selai dan madu.
“Selain bertujuan agar tidak jenuh, enrichment ini juga memberikan problem solving, perilaku alamiah, merangsang indra penciuman dan melatih kerativitas fisik dalam menyantap berbagai jenis makanan yang ada dalam Enrichment ketupat dan menikmati potongan buah-buahan edisi ketupat Ramadan, Selamat Kupatan,” tuturnya tertawa.
Hal ini pun disambut hangat oleh Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam, M. Ari Wibawanto, ia mengungkapkan PPS yang di kelola CAN dan pusa rehabilitasi orang utan yang dikelola oleh Center for Orang Utan Protection (COP) banyak memberi masukan positif dan pelatihan yang berdampak baik bagi orang utan dan satwa yang sedang menjalankan rehabilitasi disana.
“Kami menyambut sangat positif inisiatif kreatif dari rekan-rekan di Pusat Penyelamatan Satwa yang dikelola oleh Conservation Action Network (CAN) dan pusat rehabilitasi orang utan yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP). Pemberian enrichment bertema ketupat ini adalah bentuk nyata dari dedikasi kita dalam memastikan proses rehabilitasi orang utan tetap berjalan dinamis, bahkan di momen perayaan hari besar seperti Idulfitri,” paparnya.
Ia mengungkapkan, sebagaimana yang ditekankan oleh tim lapangan, kunci dari rehabilitasi adalah menjaga agar orang utan tetap 'sibuk' dan terus mengasah kemampuan liar mereka. Media ketupat ini bukan sekadar kemasan unik, melainkan alat problem solving yang efektif. Dengan isi potongan makanan di dalamnya, satwa dipicu untuk menggunakan kreativitas fisik dan indra penciuman mereka guna mendapatkan makanan. Inilah simulasi tantangan alam liar yang sebenarnya, di mana makanan tidak datang begitu saja, tapi harus dicari dan diupayakan.
“Kami sangat optimis melihat perkembangan ini. Inisiatif sederhana namun cerdas seperti ini membuktikan bahwa dengan sedikit kreativitas, kita bisa meminimalisir kejenuhan satwa di dalam kandang maupun enclosure,” optimisnya.
Momen 'Kupatan' bagi orang utan ini menjadi simbol harapan baru, bahwa setiap proses belajar yang mereka lalui di Kalimantan Timur adalah langkah pasti menuju kepulangan mereka ke habitat aslinya. Sinergi yang kuat antara BKSDA dengan mitra kerja seperti CAN, dan COP dalam memberikan pengayaan perilaku yang variatif adalah fondasi utama keberhasilan konservasi orang utan di Kalimantan Timur.
“Selamat merayakan kemenangan, baik bagi kita maupun bagi kelestarian satwa kebanggaan Indonesia,” ucapnya mengakhiri percakapan seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Rizkia, Sabtu (28/3).


