Sambut Ramadan, warga lereng Merbabu gelar tradisi kenduri dan doa di makam puncak bukit

Update: 2026-02-11 10:50 GMT

Foto: Sarwoto/ Radio Elshinta

Elshinta Peduli

Ratusan warga berbagai usia ,di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Dukuh Gunung wijil, Desa Gubuk, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali,Jawa tengah, gelar tradisi kenduri dan Doa Bersama, di area pemakaman para leluhurnya, yang berada di puncak bukit lereng Gunung Merbabu.

Tradisi turun-temurun ini,atau lebih dikenal warga tradisi Sadranan jelang Ramadan di gelar pada Selasa(10/2). Tradisi tersebut sebagai wujud syukur pada yang Maha Kuasa,atas rezeki yang di berikan. Selain itu agar masyarakat diberikan keselamatan dan keberkahan saat menjalani ibadah puasa Ramadan nanti.

Sejak pagi hari, warga tampak berdatangan ke kompleks makam dengan membawa Tenong berisi berbagai hidangan, mulai dari nasi, lauk-pauk, ayam ingkung, hingga aneka buah-buahan. Makanan tersebut kemudian ditata bersama sebelum doa dipanjatkan untuk para leluhur.

Usai doa bersama, masyarakat menikmati hidangan yang telah dibawanya dari rumah masing masing. Suasana kebersamaan terlihat hangat, mencerminkan nilai kekeluargaan dan tradisi yang masih kuat dan terjaga.

Menurut tokoh warga setempat Sriyono, tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun setiap menjelang Ramadan. Selain untuk mendoakan para leluhur, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antar warga.

“Ini adalah tradisi jelang ramadan yang sudah turun tenurun. Warga membawa tenongan yang berisi makanan hasil bumi dan juga ayam ingkung,nasi beras lengkap dengan lauk pauk," kata Sriyono,usai Doa bersama.

Elshinta Peduli

Sriyono menyampaikan, tradisi makan bersama di makam bukan sekadar ritual, tetapi juga bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan kebersamaan, saling berbagi, serta menghormati sejarah dan asal-usul keluarga dan sengaja diadakan di area pemakaman.

“Harapan kami setelah acara tradisi sadranan, ada manfaatnya ke warga. Doa doanya menjadikan warga yang maju dan dimudahkan rejekinya,” kata Sriyono.

Sementara itu, menurut Putut Tetuko, yang juga Tokoh warga, dan juga sebagai anggota Kodim 0724 Boyolali,mengatakan,tradisi jelang Ramadan ini untuk mengenang jasa jasa para leluhur dengan membawa makanan dan minuman.

“Warga disini menggelar tradisi jelang Ramadan untuk mengenang jasa para lelulur dan tidak melupakan sejarah.Selain itu tradisi tersebut juga sebagai ajang silaturohmi memper erat persodaraan dan tetap menjaga kerukunan," Demikian kata Putut Tetuko,seperti di laporkan Kontributor Elshinta, Sarwoto.

Dengan tetap menjaga nilai budaya dan norma yang berlaku, warga berharap tradisi tersebut dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus pengingat pentingnya kebersamaan dalam menyambut bulan penuh berkah.

“Tradisi ini akan kami lestarikan sebagai warisan budaya menyambut bulan suci Ramadan,” harapnya.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News