Indonesia gabung Board of Peace Trump, Pengamat kritik skema Gaza
Pengamat Timur Tengah, Tia Mariatul Khibtiah menilai Board of Peace Trump lebih mirip proyek pembangunan di Gaza daripada upaya perdamaian Palestina.
Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden
Pengamat Timur Tengah, Tia Mariatul Khibtiah, menilai inisiatif Presiden AS Donald Trump membentuk Board of Peace tidak menyentuh inti konflik Palestina-Israel.
Menurut Tia, dari 11 poin rencana Board of Peace, tidak ada kaitan langsung dengan Gaza atau kemerdekaan Palestina.
“Nah, sekarang Trump mempunyai inisiatif untuk membuat Board of Peace, tapi isinya saya melihat dari 11 poin tidak ada kaitannya dengan Gaza, atau kemerdekaan Palestina,” ujar Tia saat wawancara di Radio Elshinta, Sabtu (24/1/2026).
Tia menilai inisiatif ini lebih mirip proyek pembangunan real estate di Gaza.
"Tapi lebih ke rekonstruksi, atau saya melihatnya bukan rekonstruksi ya, seperti kita bikin satu kawasan real estate di kawasan Gaza," tambahnya.
Ia menduga skema ini hanya mengarah pada patungan pembangunan oleh negara anggota kaya.
“Betul, anggotanya semua negara-negara kaya, seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Saudi. Itu adalah aliansi permanennya Amerika kan. Jadi memang mereka mempunyai resource,” ujar Tia.
Indonesia, kata Tia, termasuk negara berkembang sehingga tidak perlu membayar iuran.
"Sementara kita, kita tahu kita termasuk developing countries, jadi tidak iuran pun tidak apa-apa, kata Trump yang penting gabung dulu," katanya.
Tia menduga Trump mengajak Indonesia karena pengaruhnya di politik global, terutama di Organisasi Kerja sama Islam (OKI).
“Trump menawarkan, karena melihat Indonesia cukup disegani dan mempunyai power di OIC (OKI). Kalau Indonesia dalam rekonstruksi Gaza ini tidak diikutsertakan, walaupun kita punya merek Non-Blok, itu bahaya bagi mereka, karena indonesia dalam kasus Palestina-Israel cukup diperhitungkan secara politik global, jadi memang harus disertakan,” ujarnya.
Tia menilai Board of Peace berisiko tinggi karena bergantung pada satu pihak. Indonesia bisa dimanfaatkan secara simbolik.
Indonesia resmi bergabung setelah Presiden Prabowo Subianto meneken komitmen di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). Prabowo hadir bersama sejumlah pemimpin negara, termasuk Trump.
“Ini kesempatan bersejarah. Ini benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza. Yang jelas penderitaan rakyat di Gaza sudah berkurang, sangat berkurang. Bantuan kemanusiaan begitu deras, begitu besar masuk. Saya sangat berharap Indonesia siap ikut serta,” kata Prabowo, dikutip Sekretariat Presiden.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyebut partisipasi Indonesia sebagai langkah strategis, konstruktif, dan konkret mendukung kemerdekaan Palestina.
"Partisipasi Indonesia seperti kita ketahui bersama di Board of Peace ini merupakan wujud dari langkah strategis, konstruktif, dan juga konkret dalam rangka mendukung kemerdekaan Palestina dan juga dalam waktu yang dekat ini menyelesaikan konflik yang terjadi di Gaza," kata Sugiono.
Steffy Anastasia/Mgg/Rama


