5 April 1950: Pemberontakan Andi Aziz di Sulawesi Selatan
Batalyon Worang dari pemerintah pusat, menduduki Pelabuhan Makassar, 20-21 April 1950. (Wikimedia)
Pada 5 April 1950, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Andi Aziz di Makassar, Sulawesi Selatan. Peristiwa ini menjadi salah satu konflik militer penting pada masa transisi pemerintahan dari Republik Indonesia Serikat menuju negara kesatuan Republik Indonesia.
Pemberontakan tersebut bermula ketika Andi Aziz, seorang perwira yang sebelumnya bertugas di Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), menolak rencana pemerintah pusat untuk menempatkan pasukan Tentara Nasional Indonesia di wilayah Negara Indonesia Timur. Penolakan itu memicu ketegangan antara kelompok militer yang dipimpin Andi Aziz dan pemerintah Republik Indonesia.
Pada hari itu, pasukan yang dipimpin Andi Aziz bergerak menguasai sejumlah lokasi penting di Makassar dan berupaya mempertahankan pengaruh militer di wilayah tersebut. Langkah tersebut membuat situasi keamanan di kota itu menjadi tegang dan menarik perhatian pemerintah pusat.
Pemerintah kemudian mengambil langkah tegas dengan memerintahkan Andi Aziz untuk menyerahkan diri dan memulihkan situasi keamanan. Setelah melalui berbagai tekanan politik dan militer, pemberontakan tersebut akhirnya dapat diatasi oleh pemerintah pusat dan pasukan yang terlibat dilucuti.
Peristiwa pada 5 April 1950 tersebut menjadi salah satu episode penting dalam sejarah konsolidasi negara setelah kemerdekaan. Konflik ini juga mencerminkan dinamika politik dan militer yang terjadi pada masa pembentukan negara kesatuan Indonesia pasca pembubaran sistem federal.

