Nilai-nilai luhur Pancasila harus selalu diingat dan diamalkan
Kepala Staf Kepresidenan, Jend TNI (Purn) Dr. H Moeldoko mengatakan Pancasila adalah harga mati bagi bangsa Indonesia. Bagaimana penguatan pengamalan Pancasila dalam hidup sehari-hari dimulai dari kehidupan sehari-hari di rumah tangga.
Elshinta.com - Kepala Staf Kepresidenan, Jend TNI (Purn) Dr. H Moeldoko mengatakan Pancasila adalah harga mati bagi bangsa Indonesia. Bagaimana penguatan pengamalan Pancasila dalam hidup sehari-hari dimulai dari kehidupan sehari-hari di rumah tangga.
"Bagaimana menjaga toleransi, saling menghormati, membangun sensitifitas dan mengajarkan membangun toleransi," kata Moeldoko yang menjadi pembicara dalam Seminar Kebangsaan dengan tema “Budaya Sebagai Benteng Ancaman Radikalisme” yang diadakan Yayasan Global CEO Indonesia dan komunitas Milenial Cinta Budaya (MCB).
Acara yang berlangsung secara hybrid yaitu Offline (tatap muka) dengan jumlah undangan terbatas menghadirkan narasumber, seperti Halida N Hatta, putri bungsu Mohammad Hatta, wakil Presiden RI yang pertama; Drs. H. Saeful Bahri, M.A., Wakil Ketua Komisi Ukhuwah MUI; dan Wildan Baraba, SekJen Millenial Cinta Budaya.
Ketua Yayasan Global CEO Indonesia, Trisya Suherman, menjelaskan, 1 Oktober merupakan Hari Kesaktian Pancasila, dimana momen penting ini mengingatkan masyarakat Indonesia jika nilai-nilai luhur Pancasila harus selalu diingat dan semakin mendarah daging di masyarakat.
Menurut Trisya, dengan begitu banyaknya kekayaan budaya di Indonesia, seharusnya sebagai anak bangsa kita harus bangga dan bersatu dengan berpedoman pada Slogan di burung Garuda yaitu Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda tetapi Satu yaitu Indonesia.
”Karena Indonesia memiliki kekayaan adat kebudayaan yang dapat dibanggakan, ini merupakan aset negara yang tidak dimiliki negara lain. Ini harus terus dilestarikan, disosialisasikan," ujarnya seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Bayu Koosyadi, Sabtu (2/10).
Trisya juga mengatakan, dengan tumbuhnya kecintaan terhadap budaya Indonesia di berbagai kalangan khususnya Millenials, diharapkan penganut paham radikalisme pun dapat teredukasi.
"Sehingga mereka bisa lebih mencintai NKRI dan tidak adalagi paham paham lain, selain Pancasila,” ucap Trisya.
Sementara, Sekjen Milenial Cinta Budaya, Wildan Baraba menambahkan, jika melalui budaya, para teman-teman milenial bisa melihat begitu banyak perspektif mengenai nilai luhur, norma dan adab yang diciptakan leluhur Bangsa Indonesia.
“Hal tersebutlah yang dapat kembali mengingatkan bahwa tidak boleh ada perpecahan di antara rakyat Indonesia. Tidak ada ruang bagi radikalisme, jika masyarakat Indonesia kembali ke hakekatnya seperti apa yang telah diajarkan nenek-moyang kita, dan diejawantahkan dalam rumusan Pancasila,” tutur Wildan menanggapi makna pancasila.
Yang penting, lanjut Wildan bukan hanya radikalisme yang harus diantisipasi. Namun ada contoh lain, misalkan kain ulos yang merupakan kain paling tua se Asia yang mungkin anak sekarang tidak mengetahuinya.
"Maka marilah mengangkat kebudayaan Indonesia ini, kalau bukan dari kita, kasihan anak cucu kita tidak mengetahuinya, ujar Ida, peserta seminar dari Jakarta mendukung pernyataan yang disampaikan Wildan.