KPA Papua lakukan pendataan kasus HIV/Aids di delapan kabupaten/kota

Elshinta.com, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua tahun ini mulai melakukan pendataan terhdap kasus HIV/Aids pada delapan kabupaten/kota di Papua.

Update: 2022-10-18 19:36 GMT
Sumber foto: Aman Hasibuan/elshinta.com.

Elshinta.com - Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua tahun ini mulai melakukan pendataan terhdap kasus HIV/Aids pada delapan kabupaten/kota di Papua.

Pendataan kasus HIV/Aids ini kembali dilakukan setelah dua tahun pandemi Covid-19 melanda Indonesia sehingga kasus HIV/Aids di Papua tidak terdata dengan baik, padahal penyebarannya masih tetap terjadi.  

Plh Wakil Ketua Harian KPA Provinsi Papua, Melki Wetipo, mengatakan perkembangan temuan pengidap HIV AIDS di Provinsi Papua semakin meningkat setiap tahunnya. Banyaknya infeksi HIV AIDS ini disebabkan oleh maraknya perilaku berisiko tinggi tertular HIV AIDS di wilayah populasi kunci. Selain itu, masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai pencegahan, penularan, dan pananggulangan HIV AIDS. 

“Dari 29 kabupaten/kota di Papua kita lakukan pendataan di 8 kabupaten/kota yakni Kabupaten  Mimika, Nabire, Keerom, Jayapura, Merauke, Jayawijaya, Kabupaten Biak Numfor dan Kota Jayapura,” kata Melki Wetipo di Kantor KPA Papua seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Aman Hasibuan, Selasa (18/10). 

Ia mengatakan, delapan daerah ini dipilih tempat pengambilan data HIV/Aids karena berdasarkan data 8 daerah ini memiliki kasus HIV/Aids paling tinggi dimana rata-rata kasus diatas 5000 kasus, sehingga kami fokus  pada 8 kabupaten/kota ini. 

Dalam pendataan ini, kata Melki Wetipo, petugas KPA yang diturunkan sebanyak 2 orang hingga 3 orang, sebelum melakukan, namun mereka lebih dahulu dilatih teknis pengisian data, setelah itu mereka mulai Selasa (18/10) besok sudah mulai turun kelapangan melakukan pendataan selama 4 hari sampai tanggal 21 Oktober nanti.

Melki mengatakan, selanjutnya petugas tersebut akan menyusun laporan yang mereka peroleh dilapangan untuk disampaikan kepada badan pengurus untuk dianalisis kembali.

Tujuannya adalah untuk mengetahui data kasus HIV/Aids pada 8 kabupaten/kota, karena dalam beberapa tahun terakhir KPA Papua belum memiliki data kasus HIV/Aids yang akurat.

“Memang data Dinkes Papua  menyampaikan per tiga bulan kasus HIV/Aids meningkat di setiap kabupaten/kota. Tapi , kami berpikir sebenarnya masih banyak kasus ini yang belum sempat didata terutama selama pandemi Covid-19 karena rumah sakit fokus pada penanganan Covid-19,” ujarnya.

Lanjut dia, agar data kasus HIV/Aids bisa didapat dengan baik, tim bertemu dengan Dinas Kesehatan, LSM, tokoh agama, tokoh adat atau mitra Dinkes yang tangani kasus tersebut.

“Kami terima data per 30 Juni 2022, jumlah kasus HIV/Aids di Papua telah mencapai 49.011 kasus dan ini sudah sangat tinggi. Kasus tertinggi terdapat di Kabupaten  Nabire sebanyak 7000 kasus, disusul Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Timika, Wamena , Merauke dan beberapa tempat,” tutur Melki Wetipo.

Ia berharap setelah semua data terkumpul di lapangan maka pada bulan November mendatang, KPA Papua akan mengundang, LSM KPA kabupaten/kota untuk menyusun program bersama berdasarkan data yang telah dihimpun dari lapangan. Data ini akan dibuat menjadi satu program yang nantinya disetujui dan di Launching oleh Gubernur Papua yang dihadiri oleh kepala-kepala daerah untuk jadi program kabupaten/kota sehingga bisa masuk dalam anggaran penanganan HIV/Aids di setiap daerah terutama dalam menjalankan programnya

“Kami akan mengajak semua pihak untuk bersama-sama dalam menangani kasus HIV/Aids ini,” ungkapnya.

Tags:    

Similar News