Pedagang buang sepuluh ton pepaya di Kramat Jati karena harga anjlok

Sejumlah pedagang terpaksa membuang sekitar sepuluh ton pepaya karena harganya anjlok di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa.

By :  Widodo
Update: 2024-04-23 21:07 GMT
Para pedagang membuang sekitar sepuluh ton pepaya di akses jalan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (22/4/2024). Hal itu disebabkan harga pepaya anjlok dari harga Rp7.000-Rp8.000/kilogram menjadi Rp3.000-Rp4.000/kilogram. ANTARA/HO-Pedagang Pasar Induk Kramat Jati
Indomie

Elshinta.com - Sejumlah pedagang terpaksa membuang sekitar sepuluh ton pepaya karena harganya anjlok di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa.

Para pedagang membuang buah pepaya yang masih layak konsumsi dan yang sudah busuk di akses jalan depan los buah.

"Harga pepaya turun jauh, sudah hampir 60 persen turunnya tapi pepaya tetap enggak laku. Jadi banyak yang dibuang," kata pedagang pepaya, Inas (46) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa.

Menurut dia para pedagang terpaksa membuang barang dagangannya karena harga pepaya anjlok sejak pertengahan  Ramadhan1445 Hijriah.

"Jumlah pembeli yang sepi juga memberikan dampak berkurangnya pendapatan para pedagang," kata Inas.

Dia menuturkan para pedagang biasa menjual pepaya sebesar Rp7.000 hingga Rp8.000/kilogram. Namun, dalam beberapa waktu terakhir harganya anjlok menjadi Rp3.000 hingga Rp4.000/kilogram.

Salah satu pedagang pepaya tengah merapikan barang dagangannya di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (23/4/2024). ANTARA/Syaiful Hakim

"Dari harga kita beli ke petani terus dijual lagi sudah enggak ada untungnya sama sekali. Pembelinya juga enggak ada. Kita dagang sekarang nombok doang," ucapnya.

Menurut dia, bukan kali ini saja para pedagang pepaya membuang barang dagangannya, namun hampir setiap tahun terjadi hal yang sama.

Elshinta Peduli

Pada akhir tahun 2023, kata dia, para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati juga terpaksa membuang puluhan ton pepaya karena sepinya pembeli dan harga turun.

"Sekarang satu mobil bisa separuh lebih dibuang, kita nombok doang. Hari ini pepaya masuk, besok sudah dibuang. Ini yang baru masuk kalau malam enggak laku sudah dibuang lagi," jelasnya.

Untuk mempertahankan usahanya itu, pedagang hanya mengandalkan pembeli dari pengusaha katering, hotel, restoran yang setiap hari membutuhkan pepaya.

"Untuk mencegah kerugian, para pedagang mengurangi jumlah pembelian pepaya kepada para petani," tambah pedagang lainnya, Tumiran (60).

Dia berharap harga pepaya dapat kembali normal, sehingga para pedagang tidak terus merugi.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News