Jemaah Haji Lansia diminta Memanfaatkan Rukhsah atau Keringanan dalam Beribadah di Tanah Suci

Petugas Penyelenggara Ibadah haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Makkah mengeluarkan imbauan agar jemaah haji lansia dan jemaah dengan risiko tinggi menjaga ritme ibadah dan memanfaatkan rukhsah atau keringanan dalam beribadah.

Update: 2024-06-03 22:25 GMT
Sumber foto: Radio Elshinta/ Yuniar K MCH 2024

Elshinta.com - Petugas Penyelenggara Ibadah haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Makkah mengeluarkan imbauan agar jemaah haji lansia dan jemaah dengan risiko tinggi menjaga ritme ibadah dan memanfaatkan rukhsah atau keringanan dalam beribadah. 

 

Pembimbing Ibadah Haji Daker Mekkah KH Abdul Mooqsit Al Ghozali mengatakan, jemaah haji lansia dan risiko tinggi diimbau agar melaksanakan ibadah yang pokok saja, dan tidak perlu memaksakan diri beribadah di Masjidil Haram.

 

“Jumlahnya kan cukup banyak yang lansia dan risiko tinggi ya, karena itu konsultan ibadah harus mencarikan aktivitas pelaksanaan ibadah haji yang paling ramah dan paling mudah buat mereka. Makanya kita dorong agar mereka melaksanakan yang pokok-pokok saja.” terangnya usai memberi arahan pada jemaah calon haji kloter JKS 22,23,24, Senin (3/6/2024). 

 

Menurut pria yang akrab disapa Kyai Mooqsit itu, jemaah bisa memanfaatkan rukhsah atau keringanan dalam pelaksanaan ibadah haji.

 

“Terutama untuk wukuf di arofah, kecuali bagi mereka yang sakit bisa safari wukuf. Tidak usah melakukan aktivitas misalnya lempar jumroh, cukup itu diwakilkan saja.” kata Dia.

 

Kyai Mooqsit juga karena waktu untuk menuju Arafah masih cukup lama, ia menghimbau agar jemaah haji yang lansia ini lebih banyak melakukan aktivitas ibadah di hotel.

 

“Tidak usah memaksakan diri untuk beribadah di Masjidil Haram. Salat di hotel atau masjid terdekat hotel. Shalat bagi jemaah lansia, risiko tinggi dan disabilitas bisa dilakukan di mana saja di Tanah Haram baik di hotel atau di masjid terdekat. Mereka tetap mendapatkan keutamaan pahala salat sebagaimana di Masjidil Haram.” tambahnya. 

 

Selanjutnya terkait tawaf dan juga Sai, Kyai Mooqsit menjelaskan, jemaah lansia dan risiko tinggi atau disabilitas tidak harus berjalan kaki. 

 

“Pelaksanaan tawaf tidak harus berjalan kaki. Boleh saja naik kursi roda, digendong atau naik skuter, begitupula dengan Sai. Pemerintah Arab Saudi sudah memfasilitasinya dengan baik.” ujar Kyai Mooqsit. 

 

Pihaknya juga meminta untuk mengisi waktu dengan membaca Quran, bersolawat dan berzikir di pemondokan sembari mempersiapkan puncak haji di Arafah Muzdalifah dan Mina.

Tags:    

Similar News