Muhammadiyah jalin kerjasama pengembangan tebu di Rembang
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir bersilaturahmi dengan petani tebu di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Senin (12/8/2024).
Elshinta.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir bersilaturahmi dengan petani tebu di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Senin (12/8/2024). Haedar Nashir mengaku ingin menjalin kerjasama dengan petani tebu di Kabupaten Rembang.
Sambil bergurau, Haidar mengaku tidak peduli nantinya Muhammadiyah digunjingkan dengan julukan ormas tebu karena sebelumnya Muhammadiyah juga digunjingkan sebagai ormas tambang.
"Kalau kami pulang dari sini itu media massa akan memberi julukan kami lagi, ormas tebu. Ormas tebu, bahkan kami ingin juga disebut jadi ormas petani karena itu hajat hidup masyarakat luas yang harus kita bersamai. Sebulan lalu kami diberi julukan ormas tambang. Gak papa. Jadi ormas tambang, ormas tebu, ormas tani. Nanti juga kita punya program lain kerena itu sesuatu yang mulai bagi kami," ucapnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, A Muhtarom, Selasa (13/8).
Haidar juga mengunjungi proyek pabrik gula milik PT Wadah Karya Rembang yang berada di Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang.
Haidar juga melihat secara langsung uji coba mesin giling gula merah didampingi Direktur Utama PT Wadah Karya, Kamadjaya, Bupati Rembang Abdul Hafidz, dan mantan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo.
Kunjungan Haedar ini menunjukkan bawa Muhammadiyah peduli kemandirian pangan, khususnya produksi gula nasional, dan kesejahteraan petani teb
Kehadirannya didampingi sejumlah pimpinan Muhammadiyah seperti Sekretaris PP Muhammadiyah, Sayuti, Ketua Majelis Dikti Litbang Bambang Setiaji, Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Yamin, Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis Fajar Riza Ul Haq, Ketua Muhammadiyah Jawa Tengah Tafsir, Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jebul Suroso, dan Direktur Utama Suara Muhammadiyah Deni Asy’ari.
Haidar juga mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi pengelolaan sumber daya alam yang belum sepenuhnya dinikmati oleh seluruh masyarakat.
“Sebagai bangsa besar yang dianugerahi tanah yang subur, miris rasanya menyaksikan kita masih terus mengimpor pangan dalam jumlah yang besar. Dulu, kita ini pengekspor gula terbesar kedua di dunia, tapi sekarang kita malah impor. Industri gula nasional harus bangkit. Kebijakan pemerintah harus berpihak pada kesejahteraan petani tebu," tegas Haedar.
Mengacu data BPS 2023, produksi gula hanya mencapai 2,4 juta ton. Untuk menutupi kekurangannya, pemerintah melakukan impor gula sebesar 6 juta ton. Kualitas tebu yang menurun padahal luas lahan meningkat menjadi salah satu persoalan mendasarnya.
Oleh karena itu, Muhammadiyah berkomitmen untuk mendorong reformasi tata kelola sumber daya alam yang inklusif dan berkeadilan.
Dalam kesempatan itu juga ditandatangani Nota Kesepahaman antara PT Wadah Karya Rembang dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang penelitian dan pengembangan varietas tebu untuk konversi lahan terbengkalai.
Menurut Haedar, Perguruan Tinggi Muhammadiyah didorong melakukan riset untuk meningkatkan produksi tebu nasional dengan memperbaiki kualitas tebu, pengembangan agro-teknologi berbasis IT, dan praktik smart farming dalam perkebunan tebu.
“Sebagai orang yang telah bergelut puluhan tahun di industri gula, dukungan Muhammadiyah ini luar biasa. Ini dakwah ekonomi yang bisa membantu nasib petani tebu dan menyelamatkan produksi gula nasional. Saya bersyukur bisa bergandengan tangan dengan Muhammadiyah, ahli pertanian dari kampus-kampusnya bisa membantu kami. Kalau bisa unit usaha Muhammadiyah ikut terlibat mengelola dan menjadi mata rantai utama dalam distribusi gula," ujar Kamadjaya yang pernah mendirikan Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (GMM) di Blora.
Nota Kesepahaman tersebut mencerminkan komitmen Muhammadiyah untuk memperkuat pilar ekonomi umat dan kesejahteraan petani.