STAI Sadra gelar Studium Generale bersama Tuan Guru Bajang: Kaji peran Al-Qur'an di era teknologi
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra menyelenggarakan Studium Generale bertajuk 'Peran Pengkaji Al-Qur'an dalam Menyambut Perkembangan Teknologi dan Industri'.
Elshinta.com - Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra menyelenggarakan Studium Generale bertajuk 'Peran Pengkaji Al-Qur’an dalam Menyambut Perkembangan Teknologi dan Industri' pada Kamis, 26 Juni 2025. Acara ini menghadirkan narasumber utama KH. Dr. Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang), cendekiawan Muslim dan tokoh nasional yang dikenal luas karena keilmuannya dalam bidang tafsir, tasawuf, serta kiprah kepemimpinan publik.
Dalam sambutannya, Dr. Otong Sulaeman, Ketua STAI Sadra, menekankan pentingnya sinergi antara wahyu, akal, dan intuisi. “Dalam doktrin filsafat transenden Mulla Sadra, tiga sumber kebenaran ini saling melengkapi. Karena itu, kami tidak memisahkan antara studi akidah-filsafat dan studi Al-Qur’an. Justru keduanya menjadi dua sayap penting dalam pengembangan ilmu di Sadra,” ujarnya.
Sementara itu, Ammar Fauzi, Ph.D yang mewakili Yayasan Hikmat Al-Mustafa, menyampaikan apresiasi atas tema yang diangkat. “Biasanya, STAI Sadra dikenal sebagai kampus filsafat dan tasawuf. Hari ini, kita menyambut fokus pada kajian Al-Qur’an, dan kita sangat beruntung karena menghadirkan tokoh komplet seperti TGB, yang reputasinya tak diragukan,” tuturnya.
Dalam paparannya, Tuan Guru Bajang (TGB) menyampaikan beberapa pokok pikiran yang relevan dengan tantangan zaman:
1. Fungsi Tabligh yang Humanis“
Salah satu tugas utama umat Islam adalah menyampaikan ajaran Islam yang indah kepada seluruh umat manusia,” tegas TGB. Menurutnya, nilai-nilai Qur’ani harus dikomunikasikan secara elegan, dengan bahasa yang merangkul dan memberi harapan.
2. Memakmurkan Dua Kampung
TGB mengingatkan pentingnya menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Ia mencontohkan masa keemasan Islam di mana filsafat, ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan duniawi berjalan beriringan sebagai buah dari nilai-nilai Qur’ani. Ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin jangan menjauhi urusan dunia; karena dunia dan akhirat bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
3. Belajar dari Strategi Rasulullah SAWl
Dalam merespons tantangan, kaum Muslimin harus fokus pada tujuan, bukan semata-mata pada simbol. “Lihat bagaimana Nabi Muhammad SAW dalam Perjanjian Hudaibiyah mau mengalah secara simbolik, tapi menang secara strategis,” jelasnya.
4. Teknologi dan AI: Ancaman atau Peluang?
Menanggapi kekhawatiran terhadap kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), TGB menegaskan bahwa pengkaji Al-Qur’an tidak perlu takut. “AI hanya bergerak di tataran kognisi. Tapi spiritualitas, nilai, dan kesadaran—itulah wilayah Al-Qur’an. Jadi justru AI bisa kita manfaatkan sebagai sarana dakwah,” tuturnya.
5. Sadra sebagai ‘Hamzah Washl’
Menutup paparannya, TGB menyampaikan harapannya agar STAI Sadra dapat memainkan peran sebagai hamzah washl—penghubung antara kekuatan-kekuatan umat yang tersebar dan sering terpecah oleh isu mazhab dan politik. TGB juga mengutip kata-kata Syaikh Al-Azhar, tempat beliau menempuh pendidikan S1 hingga S3, yang dengan tegas menyatakan bahwa Sunni dan Syiah adalah dua sayap bagi agama Islam; kedua mazhab harus bekerja sama agar bisa terbang tinggi.
Di sela-sela sesi pemaparannya, TGB juga menyinggung konflik Iran–Israel-Amerika. Ia menyatakan bahwa Iran menjalankan kewajibannya membela Palestina dan semua pihak yang peduli keadilan seharusnya mendukungnya, terlepas dari perbedaan mazhab. Bagi TGB, hukum membela Palestina itu fardhu kifayah, sehingga, ketika ada orang Iran yang mampu menghukum Zionis Israel atas kejahatan mereka, kewajiban itu menjadi gugur. Karena itulah, TGB merasa heran, ketika masih ada saja orang Islam yang tidak menunjukkan dukungannya kepada Iran dalam kasus pembelaan terhadap Palestina.
Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Dr. Hasyim Adnani, yang sebelumnya menyampaikan harapannya kepada TGB agar berkenan mendukung STAI Sadra sebagai penghubung (hamzah washl) di tengah tantangan sektarianisme.
"Kami berharap, dengan dukungan tokoh nasional seperti TGB, STAI Sadra bisa lebih diterima luas dan berkontribusi nyata bagi kemajuan Islam di Indonesia,” pungkasnya.