Pengembang properti bantah kawasan Canggu di Bali hanya diisi WNA

Perusahaan pengembang properti membantah anggapan bahwa kawasan Canggu, Kuta Utara, Bali, hanya diisi WNA atau wisatawan mancanegara.

By :  kEMlzpAX
Update: 2025-08-09 18:37 GMT
Potret kawasan Canggu Hills salah satu kawasan tanah kavling di Canggu, Kuta Utara, Badung, Sabtu (9/8/2025). (ANTARA/Rolandus Nampu)
Indomie

Elshinta.com - Perusahaan pengembang properti membantah anggapan bahwa kawasan Canggu, Kuta Utara, Bali, hanya diisi WNA atau wisatawan mancanegara.

Hal ini disampaikan Direktur Marketing PT Asia Mas Realty Kevin Daniel di Kabupaten Badung, Sabtu, melihat tren pembelian tanah kavling yang justru didominasi domestik.

“Di Canggu Hills saja bulan lalu habis 61 unit tanah kavling, kalau dibilang domestik pasarnya meredup tidak, itu 61 unit lokal, banyak bilang bule lebih ekspansif berkembang di Canggu, buktinya tidak,” kata dia.

Pengusaha properti itu melihat tren di Canggu saat ini justru WNI atau juga wisatawan domestik yang sengaja membeli lahan terintegrasi untuk membangun hunian hingga menjadikannya area untuk berinvestasi.

“Asalnya macam-macam, dari Jakarta, ada dari Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi, domestik ini biasanya tujuannya wisata tapi sekarang melek investasi, daripada membangun di Kampung Rusia biasanya orang Indonesia pilih mencari wilayah lain sendiri investasi,” ujarnya.

Setelah habis 61 unit, hari ini kawasan properti seluas 10 hektare di jalur utama Jalan Raya Canggu itu kembali menghabiskan 35 unit tanah kavlingnya, ini kembali mempertegas bahwa Canggu yang terkenal dengan padatnya turis juga akan memberi ruang besar bagi masyarakat dalam negeri.

Yang menjadi tantangan pemilik Canggu Hills itu adalah meramu konsep kawasan yang sesuai dengan minat masyarakat, dimana kali ini mereka mencoba menghadirkan kawasan hijau berkelanjutan di balik kemacetan Canggu.

Elshinta Peduli

“Kita kembali ke alam, sepanjang kawasan banyak pepohonan seperti hutan, kabel bawah tanah tidak semrawut, ada pengolahan air limbah, dan dari perbukitan ini kalau pagi bisa terlihat gunung, jadi harus ditonjolkan Bali yang kaya budaya dan alamnya,” kata Kevin Daniel.

Hal lain yang menurutnya menjadi pertimbangan masyarakat dalam negeri membeli properti adalah pemberian kebebasan dari pengembang.

Di Canggu saja, kata dia, satu unit vila jadi dengan konsep kembar satu kawasan dijual dengan harga Rp7 miliar, sedangkan dengan investasi tanah terintegrasi maka pemiliknya dapat mengeksplorasi keinginannya sendiri.

“Contohnya tanah ukuran 1,2-1,8 are dijual Rp1,8 miliar, katakan lah dia membangun dengan biaya konstruksi Rp1,2 miliar, maka hanya Rp3 miliar dia bisa memiliki bangunan yang diinginkan,” ujar Kevin Daniel.

Dari pengalamannya, selain memberi nuansa alam dan kebebasan mengolah lahan, umumnya domestik juga menyukai kebebasan memilih area seperti mencari tanah hunian atau komersil untuk menjalankan usaha, hingga kebebasan membangun sembari mencicil sehingga mereka tidak terbebani pembiayaan.

“Ya artinya itu freedom, memberikan yang namanya betul-betul kebebasan, jadi merdeka ya, bertepatan di bulan Agustus kemerdekaan,” ucapnya.

Di kawasan yang ia kembangkan sendiri, rencananya dalam dua tahun para WNI yang sudah mengunci lahannya masing-masing akan mulai membangun baik hunian maupun usaha, begitu pula pengembangan area komersil seperti mal yang akan semakin menghidupkan perekonomian Canggu.

Salah satu agen properti bernama Arisanti yang mewakili kliennya dari Jakarta mengatakan Canggu saat ini memang sedang digemari domestik, sebab daerah yang dahulu hanya desa kecil kini berkembang seperti membentuk kota.

“Di Canggu ini cepat sekali laku, kali ini klien saya carinya kavling karena dia mau bangun vila pribadi jadi ke sini untuk antri,” kata dia

“Kalau orang Jakarta ciri khasnya orang kota cari area yang luas dan rapi seperti ini kabel bawah tanah dan one gate system, Canggu nilainya akan terus naik dan ini daerah kelas atas,” ujarnya.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News