Kemenpar siapkan strategi pariwisata 2026 hadapi tekanan global
Target 16-17,6 juta wisman 2026 dijaga lewat diversifikasi pasar, promosi digital, dan penguatan wisata nusantara di tengah tekanan geopolitik dan kenaikan harga energi.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI, Jakarta, (1/4/2026).
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga kinerja sektor pariwisata nasional tetap solid pada 2026. Hal ini dilakukan guna menghadapi tantangan ganda berupa tekanan geopolitik global dan lonjakan harga energi yang membayangi industri pariwisata dunia.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan, arah kebijakan pariwisata 2026 difokuskan pada penguatan pariwisata berkualitas yang aman, berkelanjutan, dan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.
“Dinamika geopolitik global tentu memberikan tekanan terhadap sektor pariwisata. Namun kami terus melakukan langkah mitigasi agar target kinerja tetap terjaga,” ujar Widiyanti dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Tekanan global terhadap pariwisata Indonesia semakin terasa menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Penutupan wilayah udara Iran pada Februari-Maret 2026 berdampak pada gangguan ratusan jadwal penerbangan dari hub internasional seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi.
Kondisi tersebut memicu pembatalan sekitar 770 penerbangan ke Indonesia. Dampaknya, Indonesia berpotensi kehilangan sekitar 60.000 wisatawan mancanegara (wisman) dengan potensi kerugian devisa mencapai Rp 2,04 triliun.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia lebih dari 50 persen mendorong kenaikan biaya transportasi melalui penerapan fuel surcharge oleh maskapai internasional. Situasi ini menjadi tantangan besar dalam menjaga keterjangkauan akses menuju destinasi tanah air.
Menghadapi situasi tersebut, pemerintah menyiapkan strategi khusus demi menjaga target 16-17,6 juta kunjungan wisman pada 2026. Langkah utama yang ditempuh adalah diversifikasi pasar ke kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan pasar medium-haul, serta penguatan kampanye digital internasional.
Selain itu, Kemenpar mendorong optimalisasi wisata nusantara dan penyelenggaraan acara lintas batas (cross-border event) di wilayah perbatasan guna menjaga tingkat hunian destinasi.
“Di tengah tekanan global, kita harus lebih adaptif. Diversifikasi pasar, penguatan promosi, dan optimalisasi wisata nusantara menjadi kunci agar pariwisata tetap menjadi penggerak ekonomi,” kata Widiyanti.
Secara internal, Kemenpar menargetkan penguatan aspek keselamatan dan kualitas destinasi melalui pelatihan kompetensi bagi pemandu wisata dan penyusunan standar keselamatan destinasi.
Lebih dari 6.200 desa wisata akan terus dikembangkan melalui pendampingan dan sertifikasi. Program unggulan seperti Wonderful Indonesia Gastronomy, Wonderful Indonesia Wellness, serta digitalisasi melalui ekosistem Tourism 5.0 juga menjadi prioritas.
Remon Fauzi/ Rama


