OJK perkuat ekosistem Pesantren Lirboyo Kediri melalui literasi dan inklusi keuangan syariah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem ekonomi di lingkungan pondok pesantren melalui program "Sakinah" (Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah).
Sumber foto: Fendi Lesmana/elshinta.com.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem ekonomi di lingkungan pondok pesantren melalui program "Sakinah" (Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah). Langkah ini diambil sebagai upaya nyata mendukung program pemerintah dalam membangun generasi masa depan yang tangguh secara gizi maupun finansial.
Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, di antaranya Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf, Pengasuh PP Lirboyo K.H. Anwar Mansur dan K.H. Abdullah Kafabihi Mahrus, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Irjen Pol Sony Sanjaya, tim Kordinasi dan Akselerasi Program MBG Alisa Wahid serta Dicky Kartikoyono selalu Kepala Eksekutif Pengawas Prilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK
Dalam sambutannya,Dicky Kartikoyono selalu Kepala Eksekutif Pengawas Prilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK menyampaikan bahwa pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu agama dan pembentukan karakter, melainkan juga pusat pengembangan ekonomi yang sangat potensial.
"Ekosistem di pesantren ini sudah kuat secara alami. Ada pertanian, peternakan, hingga perikanan di sekelilingnya. Tugas kita sekarang adalah melakukan penguatan agar ekosistem ini memberikan manfaat dan maslahat yang lebih besar bagi umat," terangnya Selasa 14 April 2026
Penguatan ini juga disinergikan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diinisiasi pemerintah. OJK memandang bahwa pemenuhan gizi dan literasi keuangan adalah dua pilar utama dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul sebelum mereka terjun ke masyarakat.
OJK memaparkan data bahwa meski Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar, pangsa pasar keuangan syariah nasional baru mencapai 7,5%, masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang sudah mencapai 20%.
"Ini adalah tantangan besar. Masyarakat mungkin sudah tahu (literasi), tapi belum menggunakan produknya (inklusi). Melalui program Sakinah, kami ingin adik-adik santri tidak hanya paham, tapi juga bijak mengelola keuangan dan waspada terhadap risiko digital seperti pinjol ilegal atau gaya hidup konsumtif FOMO," tambahnya.
Dalam acara tersebut, OJK memposisikan diri sebagai katalis yang mempercepat hubungan bisnis (B2B) antara pesantren dengan sektor perbankan. Sebagai bukti nyata, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Bank Syariah Indonesia (BSI) dengan SPPG Pondok Pesantren Lirboyo.
Kerja sama ini diharapkan mempermudah akses pembiayaan syariah bagi unit-unit usaha di pesantren serta memperluas jangkauan layanan perbankan bagi para santri dan pengurus.
Menutup rangkaian acara, OJK menekankan tiga pilar yang akan terus dikawal oleh kantor regional di Jawa Timur dan Kediri diantaranya tentang edukasi Literasi yaitu memberikan pemahaman yang mendalam mengenai produk keuangan, Inklusi Membuka akses keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat serta melakukan perlindungan Konsumenemastikan masyarakat aman dalam bertransaksi di era digital.
"Program ini adalah kerja besar nasional. Kolaborasi antara pemerintah, regulator, lembaga keuangan, dan pesantren adalah kunci untuk menjadikan ekonomi syariah Indonesia sebagai yang terbesar di dunia," pungkasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Fendi Lesmana, Selasa (14/4).


