22 Oktober 1950: Surat Kepercayaan Gelanggang, manifesto budaya pasca-kemerdekaan

Elshinta.com - Pada masa pasca-kemerdekaan Indonesia, muncul generasi sastrawan yang memiliki semangat revolusioner dan nasionalis yang kuat, yang dikenal sebagai Angkatan '45. Kelompok ini terdiri dari para seniman, penulis, dan intelektual yang terinspirasi oleh perjuangan kemerdekaan Indonesia dan berupaya menggali dan membangun identitas kebudayaan Indonesia yang baru.

Update: 2024-10-22 06:00 GMT
Foto: Wikimedia Commons

Elshinta.com - Pada masa pasca-kemerdekaan Indonesia, muncul generasi sastrawan yang memiliki semangat revolusioner dan nasionalis yang kuat, yang dikenal sebagai Angkatan '45. Kelompok ini terdiri dari para seniman, penulis, dan intelektual yang terinspirasi oleh perjuangan kemerdekaan Indonesia dan berupaya menggali dan membangun identitas kebudayaan Indonesia yang baru. Salah satu kontribusi penting yang mereka hasilkan adalah sebuah manifesto yang dikenal sebagai "Surat Kepercayaan Gelanggang".

Angkatan '45 adalah generasi sastrawan yang lahir dari pengalaman langsung masa revolusi fisik dan kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah para penggiat sastra yang memandang seni dan budaya sebagai senjata penting dalam memperjuangkan kebebasan, bukan hanya dalam hal politik, tetapi juga dalam pemikiran dan ekspresi kebudayaan. Nama-nama besar seperti Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, dan Sutan Takdir Alisjahbana merupakan tokoh-tokoh kunci dari angkatan ini.

Pada tahun 1946, para seniman yang tergabung dalam kelompok Gelanggang Seniman Merdeka, sebuah organisasi yang mendukung kebebasan berekspresi di bawah semangat revolusi, menyusun sebuah manifesto yang kemudian dikenal sebagai Surat Kepercayaan Gelanggang. Manifesto ini merupakan tanggapan terhadap situasi sosial-politik saat itu, terutama dalam konteks pencarian jati diri kebudayaan Indonesia yang merdeka.

Surat Kepercayaan Gelanggang diterbitkan di majalah Siasat pada 22 Oktober 1950. Manifesto ini menyatakan tekad sastrawan Angkatan '45 untuk menjadi bagian dari kebudayaan dunia yang lebih luas, sekaligus menjaga keunikan identitas Indonesia. Mereka tidak ingin kebudayaan Indonesia hanya berorientasi pada tradisi masa lalu atau terbatas pada unsur-unsur lokal semata, melainkan mampu berinteraksi dengan kebudayaan global.

Dalam manifestonya, mereka menulis:

"Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri."

Pernyataan ini menekankan bahwa kebudayaan Indonesia pasca-kemerdekaan tidak boleh terisolasi dari perkembangan dunia, namun harus mampu menemukan cara baru yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia untuk mengekspresikan dirinya. Kebebasan individu dalam berkarya juga menjadi tema sentral dalam manifesto ini, di mana mereka menolak segala bentuk doktrin atau ideologi yang menghambat kreativitas.

Surat Kepercayaan Gelanggang bukan hanya sekadar manifesto budaya, tetapi juga sebuah pernyataan sikap politik dan intelektual. Di dalamnya terkandung gagasan tentang keterbukaan terhadap perubahan, modernitas, dan universalitas. Para sastrawan Angkatan '45 ingin memastikan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang baru merdeka memiliki kebudayaan yang tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan arus globalisasi.

Manifesto ini juga menjadi refleksi dari semangat zaman di mana bangsa Indonesia berusaha mencari identitas kebangsaan yang modern, namun tetap mempertahankan kepribadian dan nilai-nilai lokal. Dengan demikian, Surat Kepercayaan Gelanggang menjadi tonggak penting dalam perjalanan kebudayaan Indonesia yang berusaha menemukan jati diri di tengah dinamika perubahan dunia.

Sastrawan Angkatan '45 dengan Surat Kepercayaan Gelanggang meninggalkan warisan intelektual yang signifikan bagi sejarah sastra dan kebudayaan Indonesia. Manifesto ini menjadi cerminan dari semangat kebebasan, kreativitas, dan keterbukaan yang terus relevan dalam perkembangan budaya Indonesia hingga hari ini.

Tags:    

Similar News