9 April 1947: Peristiwa Dakota dan kebangkitan sayap republik
Elshinta.com - Pada 9 April 1947, sebuah pesawat Dakota VT-CLA milik India ditembak jatuh oleh pesawat tempur Belanda di wilayah Yogyakarta, tepatnya saat hendak mendarat di Lapangan Terbang Maguwo, yang kini dikenal sebagai Lanud Adisutjipto.
Elshinta.com - Pada 9 April 1947, sebuah pesawat Dakota VT-CLA milik India ditembak jatuh oleh pesawat tempur Belanda di wilayah Yogyakarta, tepatnya saat hendak mendarat di Lapangan Terbang Maguwo, yang kini dikenal sebagai Lanud Adisutjipto. Insiden ini menewaskan tiga awak berkebangsaan India dan menjadi salah satu titik balik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam pengembangan kekuatan udara nasional.
Pesawat tersebut sedang dalam misi kemanusiaan, mengangkut bantuan obat-obatan dan perlengkapan medis dari Palang Merah India untuk rakyat Indonesia melalui Palang Merah Indonesia. Namun, meskipun membawa misi damai dan menggunakan jalur diplomatik yang sah, pesawat itu tetap ditembak di udara oleh pihak Belanda yang masih mengklaim wilayah tersebut berada di bawah kekuasaannya. Peristiwa tragis ini memicu reaksi keras dari masyarakat Indonesia dan juga perhatian internasional, terutama karena serangan dilakukan terhadap penerbangan sipil yang tidak bersenjata.
Pada saat peristiwa ini terjadi, kekuatan udara Indonesia masih berada pada tahap awal. Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia mulai membangun kekuatan pertahanannya, termasuk di bidang penerbangan. Pada 23 Oktober 1945, dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan yang menjadi cikal bakal TNI Angkatan Udara. Mayor Udara Suryadi Suryadarma ditunjuk sebagai pimpinan pertama. Namun, karena baru terbentuk, angkatan udara Indonesia sangat terbatas dari segi personel, pesawat, dan infrastruktur. Pesawat-pesawat pertama yang dimiliki merupakan peninggalan Jepang dan kebanyakan hanya pesawat latih.
Keterbatasan tersebut membuat Indonesia belum mampu menjaga kedaulatan wilayah udaranya secara penuh. Peristiwa Dakota VT-CLA menyadarkan bangsa Indonesia akan pentingnya kekuatan udara yang mandiri dan kuat. Insiden ini menjadi pemacu semangat untuk mempercepat pembangunan dan pengembangan TNI AU, baik dari segi organisasi, pelatihan penerbang, maupun pengadaan pesawat dan peralatan militer udara.
Lokasi jatuhnya pesawat dan peringatan terhadap kejadian ini masih dikenang hingga kini, termasuk dalam bentuk monumen di Lanud Adisutjipto. Peristiwa Dakota VT-CLA tidak hanya menjadi catatan sejarah mengenai pelanggaran kemanusiaan, tetapi juga simbol pentingnya kedaulatan udara dan solidaritas internasional dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.